1. Sejarah Lahirnya VOC
Pada tahun 1602, pemerintah Belanda membentuk serikat dagang untuk India dan wilayah Timur, yang disebut dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau lazim dikenal dengan sebutan Kompeni. Pemegang sahamnya adalah pedagang-pedagang besar Belanda. Adapun tujuan dari dibentuknya VOC adalah:
a). Menghindari terjadinya persaingan yang tidak sehat di antara kongsi-kongsi dagang Belanda;
b). memperkuat posisi Belanda dalam menghadapi persaingan dengan bangsa-bangsa Eropa lainnya (seperti serikat dagang East India Company dari Inggris);
c). Memonopoli perdagangan rempah-rempah di Indonesia;
d). Membantu pemerintah Belanda yang sedang berjuang melawan pendudukan Spanyol.
2. Kebijakan - kebijakan VOC di Indonesia VOC
a. Kebijakan Pieter Both (1610 - 1614): Peletak Dasar VOC.
Gubernur Jenderal pertama VOC adalah Pieter Booth. Di bawah pimpinan PieterBoth, VOC Berhasil menguasai Ambon tahun 1605. Ambon kemudian dijadikansebagai pusat kegiatan VOC. Salah satu kebijakan VOC untuk meraih keuntungan yang besar adalah melakukanmonopoli perdagangan, terutama perdagangan rempah-rempah. Dalam hal ini rakyat yang memiliki rempah-rempah harus menjualnya kepada VOC denganharga yang sudah ditentukan. Selain itu apabila jumlah rempah-rempah terlalubanyak di pasaran sehingga harganya turun, maka VOC melakukan pemusnahantanaman rempah-rempah milik rakyat yang dianggap berlebihan. Untuk mengawasi jalannya monopoli perdagangan rempah- rempah di Maluku VOCmenjalankan patroli yang disebut pelayaran Hongi.
b. Kebijakan Jan Pieterszoon Coen (1619 - 1623; 1627 - 1629)
• Membangun sebuah markas besar (headquarter) VOC, yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan kepentingan VOC di Hindia. Banten tidak menarik bagi Coen karena pertentangannya dengan bangsa Cina, Banten dan juga Inggris. Sedangkan Maluku terlalu kecil untuk dijadikan kantor pusat, selain itu Coen tetap menginginkan Jawa sebagai kedudukan kantor pusatnya karena sangat mudah untuk logistik pangan. Akhirnya Coen memilih Jayakarta sebagai pusat pemerintahannya karena di Jayakarta pula terdapat gudang dan loji VOC yang berdiri sejak tahun 1610. Karena Pangeran Jayakarta tidak menghendaki kehadiran Coen di Jayakarta, Coen memperkuat diri dengan membangun benteng di sekitar Istana Jayakarta. Tanggal 18 Januari 1621 Coen dan tentaranya berhasil mengusir Pangeran Jayakarta dan pengikutnya, kemudian dia merubah nama Jayakarta menjadi Batavia.
• Merealisasikan monopoli pembelian pala di Hindia, Pala merupakan komoditas rempah-rempah yang hanya ada di Kepulauan Banda. Saat itu penduduk Banda menandatangani persetujuan penjualan pala kepada VOC dan juga Inggris. Untuk menguasai pala di pulau itu Coen menggunakan cara keras dan brutal. Yaitu dengan Pembantaian Banda 1621, ini terjadi karena ketidakmampuan bangsa Belanda menjual pala lebih murah dibandingkan dengan Inggris bahkan dengan penduduk lokal pun masih lebih mahal, padahal Belanda sudah mengontrol Maluku selama 20 tahun. Akhirnya para: petinggi VOC mencoba membuat program untuk bisa memonopoli perdagangan pala di pulau Banda. JP Coen kemudian mengambil tugas ini dan beranggapan bahwa hanya dengan mengusir dan melenyapkan penduduk asli pulau benda monopoli pala baru bisa dilakukan.
3. Berakhirnya Kekuasaan VOC pada tahun 1799
Setelah berkuasa lebih dari 200 tahun, VOC mengalami kemunduran hingga dibubarkan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1799. Sebab-sebab kemunduran dan pembubaran VOC adalah:
a. Faktor Internal
• Korupsi di semua tingkatan, yaitu dari pegawai rendah sampai pejabat tinggi VOC.
• Sebagian pegawai dan pejabat VOC ikut serta dalam kegiatan perdagangan rempah-rempah demi kepentingan dirinya sendiri, sesuatu yang ilegal dan merugikan kepentingan VOC.
• Perdagangan gelap merajalela, yang menerobos monopoli perdagangan VOC. Perdagangan gelap ini sebagian difasilitasi oleh pejabat-pejabat VOC yang korup sebab mereka mendapatkan setoran liar dari aktivitas tersebut.
• Anggaran biaya untuk para pegawai sangat besar karena makin meluasnya kekuasaan VOC. Hal ini tidak seimbang dengan penghasilan VOC yang semakin menurun.
• Biaya perang untuk menanggulangi perlawanan rakyat seperti di Makassar sangat besar.
• Adanya persaingan dari perserikatan dagang lainnya seperti East Indian Company (Inggris) dan Compagnie des Indes (Perancis); para pejabat dan pegawai VOC yang korup membuat persaingan ini tidak dapat dimenangkan oleh VOC.
• Pemasukan yang kecil diserta utang yang menumpuk menyulitkan VOC untuk memberikan imbal hasil (return on investment) kepada para pemegang saham.
b. Faktor Eksternal
Pada tahun 1795, Perancis di bawah Napoleon Bonaparte menguasai Belanda dan mendirikan Republik Bataaf (1795-1806). Sebelumnya pada tahun yang sama, atas dukungan Perancis, raja Belanda Willem V digulingkan oleh kaum republikan. Belanda pun kembali menjadi republik. Sementara itu, raja Belanda Willem V menyingkir ke Inggris (1795). Republik baru ini menjadi semacam negara bawahan dari Perancis. Sebagai republik, Belanda menjadi sekutu Perancis dalam gerakan anti-monarki untuk melawan Inggris.
Pendudukan ini merupakan bagian dari cita-cita imperialisme Napoleon untuk menyebarluaskan hasil dan cita-cita Revolusi Perancis 1789-1799-yaitu republikanisme, kebebasan, kesetaraan, dan lain-lain-ke seluruh negara Eropa yang umumnya masih menganut sistem pemerintahan monarki. Perubahan politik ini ikut memengaruhi kebijakan Belanda terhadap VOC. Pemerintah Republik Bataaf memandang apa yang dilakukan VOC bertentangan dengan semangat kesetaraan dan kebebasan, termasuk untuk berusaha, dan karena itu harus dibubarkan. VOC pun dibubarkan tahun 1799.

0 komentar:
Posting Komentar