1. Faktor Utama: Gold, Gospel, Glory

a. Gold: adanya prospek ekonomi di dunia timur serta keinginan untuk berdagang secara langsung dengan     dunia timur.

1). Faktor pertamanya adalah adanya keinginan bangsa Eropa untuk berdagang secara langsung dengan dunia timur hal ini tidak terlepas dari kondisi ekonomi politik Eropa pada waktu itu yang dapat digambarkan dalam dua hal berikut:
2). Faktor Kedua (konstatinopel), konstatinopel adalah kota tempat barang-barang berharga dari dunia timur ramai diperdagangkan. Barang-barang itu diantaranya emas, perak rempah-rempah, gading, batu mulia dan sutra. Di kota milik kekaisaran Romawi ini, bangsa-bangsa barat membeli barang-barang tersebut dari pedagang perantara atau (middlaman) seperti saudagar Arab dan pedagang dari Asia tengah. Orang-orang barat menjual kembali barang-barang tersebut di Eropa dengan harga yang lebih mahal. Dari sini mereka perlahan-lahan mengenal kekayaan dari dunia timur. Perkembangannya, bangsa-bangsa barat terutama Portugis merasa bahwa keuntungan dari perdagangan akan bertambah besar jika mereka berdagang secara langsung dengan sumbernya dan tidak melalui pedagang perantara di konstantinopel. Itu berarti, mereka harus datang sendiri ke India, Asia tengah, Cina, Indonesia, Afrika Utara dan sebagainya. Hal inilah yang melahirkan serangkaian eksplorasi ekspedisi dan penjelajahan ke dunia timur yaitu ke Asia dan Afrika, oleh bangsa-bangsa barat pada abad ke-15 dengan Portugis sebagai pelopornya.
3). Faktor Ketiga, Berkembangnya paham merkantilisme di Eropa : Merkantilisme adalah teori ekonomi yang menyatakan bahwa kesejahteraan suatu negara ditentukan oleh banyaknya aset atau modal yang dimiliki serta besarnya volume perdagangan global suatu negara. Aset ekonomi atau modal negara itu berupa jumlah mineral berharga berupa emas perak, dan komoditas lainnya yang dimiliki oleh negara. Modal ini bisa diperbesar jumlahnya dengan meningkatkan ekspor dan sedapat mungkin mencegah impor sehingga neraca perdagangan dengan negara lain selalu positif. Kebijakan ekonomi yang bekerja dengan mekanisme seperti inilah yang dinamakan dengan sistem ekonomi merkantilisme. Merkantilisme berkembang pada abad ke-15 sampai abad ke-17 dan dianut oleh banyak negara di Eropa termasuk Portugis, Spanyol, Inggris, Perancis dan Belanda. Awalnya mereka berdagang dengan sesama bangsa Eropa untuk mencapai tujuan tersebut negara-negara Eropa berupaya memonopoli jalur perdagangan penting di antara mereka sendiri. Lambat laun negara-negara Eropa tersebut mengarahkan perhatiannya pada sumber logam mulia dan komoditas berharga lain di luar Eropa. Satu sama lain bersaing mendapatkan emas dan perak sebanyak-banyaknya di luar Eropa. Itulah cikal bakal lahirnya imperalisme kolonialisme ke negara-negara Asia-Afrika- Amerika Selatan. Selanjutnya selain logam mulia rempah-rempah seperti cengkeh dan pala menjadi incaran negara-negara yang menganut kebijakan merkantilisme itu.

b. Gospel: menyebarkan agama Nasrani.

Faktor utama lainnya adalah adanya keinginan untuk menyebarkan agama nasrani ke seluruh dunia.
Portugis dan Spanyol adalah negara yang dilandasi agama Katolik. Raja-rajanya sangat taat terhadap paus, pemimpin Gereja Katolik seluruh dunia. bagi mereka, taat kepada paus pun dalam hal yang terkait dengan politik, dianggap identik dengan taat kepada Tuhan paus diyakini sebagai wakil Tuhan di dunia. Maka, kita dapat memahami bahwa salah satu misi penjelajahan Portugis ini adalah menyebarkan agama nasrani itulah sebabnya juga dalam setiap penjelajahan dan pendudukkan pelaut-pelaut Portugis dan Spanyol mengikutsertakan banyak misionaris Katolik.

c. Glory: mencapai kejayaan sebagai bangsa.

Sebagai bangsa yang lama dikuasai oleh bangsa moor Portugis ingin bangkit dan membuktikan kepada bangsa-bangsa lain bahwa Portugis mampu membangun bangsanya dengan kekuatannya sendiri. Semangat untuk mencapai kejayaan sebagai bangsa itulah yang melahirkan era penjelajahan samudra yang dipelopori oleh Portugis sendiri. Di tempat-tempat baru yang didudukinya, misalnya Portugis menancapkan padraw, suatu batu prasasti berukuran besar yang bergambar lambang kerajaan Portugal. Selain sebagai simbol tercapainya perjanjian kerjasama ekonomi-politik dengan penguasa lokal, pemasangan padraw juga merupakan simbol bahwa wilayah yang dipasangi padraw berada di bawah kekuasaan dan perlindungan Portugis.

2. Faktor-faktor pendukung

a. Adanya penemuan baru dalam berbagai bidang termasuk dalam bidang teknologi maritim seperti Kompas, navigasi, kartografi (pembuatan peta) dan caravel (perahu cepat berukuran kecil yang bisa melawan arah angin). Dengan kata lain, ketika penjelajahan samudra dimulai, Eropa menikmati apa yang disebut abad penemuan atau abad ke-15 sampai abad ke-17. Jatuhnya konstantinopel menginspirasi abad penemuan sebab orang Eropa lalu berpikir keras menemukan jalur dan pusat perdagangan rempah-rempah yang baru.
b. Para penjelajah ini juga didorong oleh idealisme pribadi titik penemuan galileo-galilei bahwa dunia itu bulat misalnya membuat para penjelajah merasa penasaran dan tertantang untuk membuktikannya sendiri titik rasa penasaran dan idealisme pribadi itu diperkuat oleh kisah perjalanan yang ditulis Marcopolo antara tahun 1271-1292 yang kemudian disatukan dalam bentuk buku berjudul the travels of Marcopolo atau dalam versi italianya ll Milione ("The Million"). Buku ini mengisahkan tentang keajaiban dan kemakmuran wilayah dunia di timur, Asia, Persia, Cina dan Indonesia. Pertama kali diterbitkan tahun 1477 Christopher Columbus konon membaca buku ini secara rinci dan penuh perhatian.
c. Portugis dan Spanyol menjadi tempat pengungsian pengusaha dan pekerja terampil asal konstantinopel ketika kota ini dikuasai oleh kesultanan Ottoman pada 1453. Sebagian dari mereka ahli dalam ekonomi termasuk seluk beluk perdagangan di Asia dan Afrika, dan bahkan juga ahli dalam bidang maritim. Alih pengetahuan dari para "pengungsi" asal konstantinopel ini ikut membantu kedua negara itu melakukan perluasan wilayah-wilayah baru di luar daratan Eropa dan Mediterania.

3. Faktor pemicu: jatuhnya konstantinopel pada tahun 1453

Jalan untuk mencapai ke-3 tujuan terutama itu gold gospel glory terbuka lebar ketika pada tahun 1453 konstantinopel dikuasai oleh bangsa Turki Usmani atau Ottoman. Sultan mehmed II (1432 - 1481) penguasa Ottoman, menghambat pedagang Eropa beroperasi di daerah kekuasaannya. Akibatnya satu-satunya akses orang Eropa melalui darat ke Asia terputus, yang tentu sangat mempengaruhi lalu lintas serta volume perdagangan rempah-rempah. Hal ini mempengaruhi ekonomi Eropa termasuk Portugis. Oleh karena itu, bangsa barat yang dipelopori Portugis berusaha keras mencari sumber dan rute baru mendapatkan rempah-rempah.
Masa ketika orang-orang Eropa (Portugis dan kemudian Spanyol) melakukan perjalanan ke wilayah timur ini dikenal dengan sebutan era penjelajahan samudra, yang berlangsung pada tahun 1450 - 1650. Pada tahun 1488 Bartolomeu Dias berlayar menyusuri pantai barat Afrika. Ia mengitari Tanjung harapan. Diaz bermaksud terus berlayar sampai ke India, namun terpaksa kembali lagi karena awak kapalnya menolak melanjutkan perjalanan titik dalam pelayaran pulang itulah ia berlabuh di sebuah Tanjung bebatuan di Afrika Selatan yang menghadap samudra Atlantik, yang kemudian disebut Tanjung harapan titik dengan berlabuh di Tanjung tersebut ia akhirnya mengetahui bahwa:
1). Berlayar mengitari Afrika dari barat ke timur itu mungkin hanya dengan mengitari Tanjung tersebut.
2). Dengan mengitari Tanjung bebatuan tersebut para pelaut dapat mencapai India dan wilayah timur lain melalui laut.
Francisco de Almeida (ca. 1450-1510) pada tahun 1505 Portugis menancapkan kekuasaan politik di India almeida diangkat menjadi wakil pemerintah Portugis di India. Pelaut Portugis yang erat kaitannya dengan kolonialisme imperialisme Eropa di Indonesia adalah afonso de albuquerque (1453-1515). Iya menaklukkan goa, India, pada tahun 1510 dari Gowa ia melebarkan sayap ke nusantara.


B. KOLONIALISME IMPERIALISME BARAT (EROPA) DI INDONESIA



1.      1. Pengaruh Kolonialisme Portugis

a.      Agama

Menurut Lombard, umat Kristen tertua Indonesia adalah Katolik. Penyebaran agama ini dimulai jauh sebelum kedatangan Portugis, yaitu sejak abad ke-14. Pada abad itu, sejumlah rohaniwan Katolik singgah di Kepulauan Nusantara. Di antara mereka adalah Odorico de Pordonone, yang mengadakan perjalanan dari Eropa ke Cina. Pada tahun 1321, ia singgah di istana Majapahit dan Bandar Lamuri di Aceh. Seorang rohaniwan Fransiskan yang bernama Joao de Marignolli mengikuti jejaknya dan tercatat pernah diterima dengan baik di istana Samudra Pasai pada tahun 1347.

Akan tetapi, penyebaran agama Katolik dengan pengaruh yang lebih besar terjadi pada saat kedatangan Portugis di Nusantara. Komunitas Kristen yang dipengaruhi Portugis tersebar di Kepulauan Maluku dan daerah tertentu di Kepulauan Sunda Kecil seperti Nusa Tenggara Timur. Misionaris terbesar yang datang ke Maluku adalah Fransiscus Xaverius (1506-1552), seorang anggota Serikat Yesus. La mengunjungi Ambon, Ternate, dan Halmahera antara tahun 1546 hingga 1547.

Misionaris lainnya adalah para biarawan dari Ordo Fransiskan dan Dominikan. Mereka memperkenalkan agama Katolik di kalangan penduduk di Nusa Tenggara Timur, yang berpusat di Larantuka (Flores Timur). Selanjutnya, mereka menyebarkan agama Katolik ke Minahasa, Bolaang Mongundow, Pulau Siau, Sangihe Talaud, Blambangan, dan Panarukan.

Agama Katolik yang dibawa Portugis dan Spanyol berkembang sangat baik di Flores dan Timor. Saat ini, pengaruh Portugis masih dapat ditemukan dalam bentuk warisan nama-nama yang dipakai orang Timor dan Flores bagian Timur yang mirip dengan nama-nama orang Portugis, seperti da Cruz, da Costa, dan Cunha, de Rozari, da Gomes, Fernandez, Rodriquez, dan lain-lain.

 

 

b.      Kesenian

Pengaruh Portugis dalam bidang kesenian tampak pada musik Keroncong. Kita masih bisa menemukan peninggalannya di Kampung Tugu, Jakarta Utara.

Musik keroncong berasal dari musik Portugis abad ke-16 yang disebut fado. Musik ini tadinya populer di lingkungan perkotaan Portugis. Awalnya fado merupakan sejenis nyanyian bernuansa ratapan (mornas) yang dibawa para budak negro dari Cape Verde, Afrika Barat ke Portugis sejak abad ke-15. Lambat-laun, fado berkembang menjadi lagu perkotaan dan mengiringi tari-tarian. Tarian yan diiringi fado dipengaruhi budaya Islam yang dibawa bangsa Moor asal Afrika Utara saat menaklukkan Selat Gibraltar di bawah pimpinan panglima Tariq ibn Ziyad pada abad ke-7 Masehi. Setelah dipengaruhi Islam, tarian tersebut dinamakan morescoMoresco adalah tarian hiburan para elite Portugis yang biasanya dibawakan oleh penari dari bangsa Moor.

Alat musik pengiring moresco adalah gitar kecil bernama cavaquinho. Gitar ini dibawa para pelaut Portugis dalam era penjelajahan samudera. Ketika masuk Indonesia, alat musik tersebut digunakan untuk menyanyikan lagu pengiring tarian moresco. Karena suara yang dikeluarkan berbunyi crong-crong, orang Indonesia menamai musik pengiring tarian tersebut keroncong.

Di Jakarta, peninggalan budaya Portugis selain keroncong  adalah Tanjidor dan Ondel-ondel. Selain Jakarta, jejak-jejak Di Jakarta, peninggalan budaya Portugis selain keroncong peninggalan budaya Portugis dalam bidang kesenian masih membekas di tempat-tempat di Nusantara, seperti Maluku Utara, Maluku Tengah, Ambon, Solor, dan Flores.

c.       Bahasa

Dalam bidang bahasa, banyak kosakata bahasa Portugis diserap ke dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh, biola (viola) meja (mesa), mentega (manteiga), pesiar (passear), pigura (figura), pita (fita), sepatu (sapato), serdadu (soldado), cerutu (charuto), jendela (janela), algojo (algoz), bangku (banco), bantal (avental), bendera (bandeira), bolu (balo), boneka (boneca), armada, bola, pena, roda, ronda, sisa, tenda, dan tinta.

 

 

2.      Pengaruh Kolonialisme Belanda

a.      Bidang Sosial Budaya

1)      Mentalitas Inlander

Istilah mentalitas inlander. Secara harfiah, itu berarti mentalitas khas orang pribumi, yang dikonotasikan secara negatif sebagai orang mengidap rasa rendah diri akut serta menakar diri lebih rendah dibandingkan orang-orang atau bangsa-bangsa lainnya. Bangsa-bangsa lain, terutama bangsa-bangsa Barat, dianggap lebih hebat, lebih maju, lebih beradab, lebih modern, lebih pintar, dan bangsa sendiri dianggap lebih rendah harjat dan martabatnya, kurang beradab, serta kurang maju.

Mengapa disebut mentalitas khas orang pribumi? Dikatakan demikian karena mentalitas ini dianggap telah mandarah daging serta menjadi bagian dari pola hidup dan perilaku rakyat Indonesia. Mentalitas itu mendarah daging karena dirawat dan dikembangkan oleh sistem yang juga melahirkannya, yaitu sistem feodalisme. Oleh Belanda, sistem ini dimanfaatkan dan dipelihara untuk melanggengkan kekuasaannya di Indonesia.

Pada masa penjajahan, penyakit mental bangsa Indonesia ini dimanfaatkan dan dipelihara oleh Belanda. Dengan begitu, bangsa Indonesia sulit memiliki perasaan percaya diri dan perasaan mampu membangun bangsanya sendiri secara mandiri.

Belanda berulang kali mengatakan bahwa warga pribumi adalah bangsa yang bodoh dan hanya pantas menjadi budak Belanda. Selain itu, kebijakan ekonomi-politik dibuat sedemikian rupa sehingga mentalitas inlander itu tetap terpelihara. Terkait dengan pemungutan pajak verplichte leverantie dan contingenten, misalnya, Belanda menugaskan elite-elite pribumi. jika mereka berhasil mengumpulkan hasil bumi melebihi target, mereka akan mendapatkan hadiah yang lebih dikenal dengan istilah batig slot (saldo lebih). Kondisi tersebut menyebabkan ketergantungan elite pribumi terhadap pemerintah kolonial menjadi makin tinggi.

 

 

2)      Pendidikan

Sistem pendidikan Barat di Indonesia digarap Belanda sejak abad ke-18. Pada akhir abad ke-19, sistem pendidikan yang berkembang di Indonesia semakin banyak.

Sistem persekolahan Belanda awalnya bersifat segregatif: ada sekolah khusus Belanda dan Eropa seperti Europesche Lagere School (ELS), ada sekolah khusus untuk orang-orang keturunan Tionghoa seperti Hollandsch Chineseesche School, dan ada sekolah khusus untuk pribumi seperti Indlansdche School.

Pendidikan semakin tegas tatkala Politik Etis diberlakukan pada tahun 1911. Politik Etis mereorganisasikan serta mengembangkan sekolah-sekolah baru pada semua jenjang pendidikan. Hal ini antara lain berupa sekolah dasar, Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah menengah pertama, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan sekolah menengah atas, Algemeene Middelbare School (AMS); sekolah-sekolah kejuruan, seperti sekolah pegawai sipil pribumi, Opleidengschool voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA), dan dua sekolah kejuruan medis selevel universitas tingkat awal, School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) dan Nederlandsch-Indische Artssenschool (NIAS); dan lembaga pendidikan level universitas, Technische Hoogeschool (THS, Sekolah Tinggi Teknik), di Bandung pada tahun 1920-meski pada awalnya kehadiran THS ini di luar desain pemerintahan kolonial, karena didirikan atas inisiatif sebuah yayasan perkebunan swasta Belanda, dan baru diambilalih oleh pemerintah pada tahun 1924. Sejalan dengan itu, terjadi pula perluasan pengajaran bahasa-bahasa Eropa, serta inisiatif pengiriman secara selektif anak-anak keluarga bangsawan untuk bersekolah ke negeri Belanda.

Dari model pendidikan seperti itu, muncul kaum terpelajar baru di luar priyayi lama dan masyarakat Eropa di Hindia Belanda.Penguasaan mereka atas bahasa Eropa, dibarengi kehadiran bahan pustaka dan industri penerbitan, memberi mereka kesempatan untuk mengakses pengetahuan dan informasi termaju pada zamannya secara langsung.

Pengaruh penjajahan Barat dalam bidang pendidikan yang pengaruhnya bisa terasa hingga kini adalah kehadiran Lembaga pendidikan dan penelitian modern, perkembangan tulisan latin, percetakan dan pers, dan gaya hidup.

 

3)      Bahasa

Bahasa Belanda juga banyak memengaruhi bahasa Indonesia dan bahasa Jawa serta bahasa-bahasa Nusantara lainnya. Kata- kata pinjaman dalam bahasa Belanda seperti knalpot, bekleding, vermaak, achteruit, absurd, afdruk, belasting, bestek, bom, bretel, debat, degen, drama, elan, fabel, flop, fotomodel, fraude, garasi, giro, gratis, handel, harem, hutspot, inklaring, jas, kabinet, kanker, kansel, krat, lading, loket, marmer, masker, matras, mondeling, nota, oma, onderneming, opa, pan, pater, punt, rekening, rimpel, salaris, sigaret, skelet, spoor, tank, testikel, tol, urine, vla, wastafel, dan wortel telah dikenal dan digunakan sebagai Bahasa Indonesia.

Untuk urusan lalu lintas dan mobil kita menggunakan atret (dari achteruit), verbodenpit (dari fiets), knalpot, rem, persnelling (dari versnelling), dongkrak, schokbreker, dan seterusnya.

 

4)      Gaya Hidup

Penjajah Belanda juga membawa gaya hidup yang memengaruhi kehidupan sebagian rakyat Indonesia. Karena itu, muncul istilah "gaya hidup yang kebarat-baratan". Istilah westernisasi kiranya tidak terlalu tepat untuk menunjukkan gejala ini karena "gaya hidup Barat" itu tidak disebarkan secara terencana dan sistematis, juga tidak memengaruhi secara mendasar hidup sebagian besar orang. Pengaruh itu terlihat di kalangan bangsawan dan birokrat kolonial, sedangkan sebagian besar rakyat Indonesia masih tetap menjalani gaya hidup lama (feodal-tradisional).

"Gaya hidup yang kebarat-baratan" itu, misalnya, tampak dalam kebiasaan minum-minuman keras, pesta, dansa (menari khas Belanda atau Barat), gaya perkawinan, dan model berpakaian (rok, jas, dasi, topi). Selain itu, bangsa Barat juga memperkenalkan sekaligus membiasakan sikap disiplin, menghargai waktu, demokratis dan terbuka, serta bersikap rasional.

 

5)      Berkembangnya agama Kristen Protestan di Indonesia

Pada tahun 1617, Parlemen Belanda menginstruksikan kepada Gubernur Jenderal VOC dan Raad van Indie untuk bertanggung jawab menyebarkan agama Kristen dan mengajarkannya melalui sekolah-sekolah dengan bahasa belanda sebagai bahasa pengantar. Saat ini, kita dapat menyaksikan sebagian daerah di Nusantara yang mayoritas masyarakatnya beragama Kristen Protestan, seperti Sulawesi Utara, Timor Barat, Alor, Sumba, sebagian wilayah Tapanuli, Tana Toraja, Maluku bagian selatan, serta Papua.

 

b.      Bidang Ekonomi

Pengaruh ekonomi yang membekas sampai sekarang terutama sejak diberlakukannya sistem Tanam Paksa dan kebijakan Pintu Terbuka (sistem ekonomi liberal). Pengaruh sistem Tanam Paksa, misalnya, tampak dalam dua hal: (1) petani pribumi mulai mengenal jenis-jenis tanaman-tanaman komoditi lain seperti kopi dan teh. (2) petani mulai mengenal sistem upah, yang sebelumnya tidak dikenal (masyarakat lebih mengutamakan sistem gotong-royong).

Sementara itu, sistem ekonomi liberal membuat rakyat Indonesia mengenal hal-hal berikut.

1)      Sistem sewa tanah. Aturan sewa tanah kepada pihak asing dengan status hak guna usaha selama jangka waktu tertentu masih tetap berlaku hingga sekarang.

2)      Ekonomi uang. Karena diterapkannya sistem ekonomi liberal pada masa kolonial, masyarakat Indonesia akhirnya mengenal adanya alat tukar berupa uang. Sistem uang tersebut sekaligus mengubah sistem barter.

3)      Sistem kerja kontrak. Pada tahun 1888, pemerintah kolonial membuat peraturan yang disebut Koeli Ordonantie. Peraturan itu dibuat untuk mengatur masalah perburuhan. Pengaturan perburuhan dipandang perlu karena pembukaan dan perluasan perkebunan dan pertambangan berdampak pada meningkatnya kebutuhan tenaga kerja.

 

c.       Bidang Politik

Pengaruh penjajahan Belanda dalam bidang politik tampak dalam hal birokrasi. Sistem pemerintahan kolonial di bawah pimpinan gubernur jenderal dirancang seperti lembaga eksekutif yang kita kenal saat ini. Dalam mengelola pemerintahan, gubernur jenderal dibantu oleh enam departemen, yaitu kehakiman, keuangan, dalam negeri, kebudayaan dan kepercayaan, ekonomi, serta kesejahteraan umum. Ada juga departemen militer, yaitu departemen peperangan dan angkatan laut. Departemen-departemen ini mirip dengan kabinet dalam sistem pemerintahan presidensial sekarang ini.

d.      Bidang Hukum

Jauh sebelum era kolonialisme, di Indonesia berlaku hukum adat, yang merupakan kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang biasanya tidak tertulis. Pada masa kolonialisme Belanda, hukum Belanda mulai diperkenalkan di Indonesia. Meskipun demikian, hukum Belanda itu hanya berlaku untuk orang Belanda dan bangsa Eropa lainnya. Bagi orang Indonesia, berlaku hukum adat. Setelah Indonesia merdeka, bahkan sampai sekarang, sistem hukum Belanda itu dijadikan salah satu pilar sistem hukum Indonesia. Hal ini nyata dalam pasal-pasal KUH-Pidana dan KUH-Perdata. Selain itu, dua pilar lain sistem hukum Indonesia adalah sistem hukum adat dan sistem hukum Islam. Sebagai contoh sederhana, istilah-istilah hukum kita masih menggunakan kosa kata bahasa Belanda, seperti ruilslag (tukar guling), gijzeling (penyanderaan), advokat (pengacara), beslag (sita), in kracht (putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap), bezet (diduduki), dan masih banyak lagi.

 

e.       Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

1)      Mengenal paham liberalism

Diterapkannya kebijakan Pintu Terbuka pada abad ke-18 oleh pemerintah kolonial membuat rakyat Indonesia mengenal paham liberalisme. Paham ini memengaruhi kebijakan ekonomi dan politik Indonesia sampai sekarang ini.

Penerapan gagasan liberal dalam bidang ekonomi di Indonesia waktu itu kurang sejalan dengan cita-cita awalnya. Meskipun demikian, setidaknya bangsa Indonesia mengenal pentingnya kebebasan dan kesetaraan dalam semua bidang kehidupan. Kedua gagasan inilah jantung paham liberalisme.

Dalam bidang ekonomi, paham ini mengusung perdagangan bebas, pengakuan terhadap hak milik pribadi, pembatasan terhadap campur tangan negara dalam untuk melakukan kegiatan ekonomi. Semua unsur ini bersatu di perekonomian dan memberi kebebasan kepada pihak swasta bawah sistem yang disebut kapitalisme. Di bawah sistem ini, segala potensi dan kreativitas-inovasi individu untuk melakukan aktivitas ekonomi diberi ruang yang besar. Hal ini pada gilirannya mendorong munculnya para wirausahawan, yang menciptakan lapangan kerja, menghasilkan pajak bagi negara, menumbuhkan persaingan yang sehat, dan seterusnya.

Dalam bidang politik dan sosial-budaya, paham liberalisme mengusung pemilihan umum yang bebas dan fair, adanya pengakuan terhadap hak-hak sipil (seperti kebebasan berpendapat), kebebasan pers, kebebasan beragama, dan supremasi hukum. Dalam perkembangannya muncul juga gagasan kesetaraan jender.

Sampai saat ini, penerapan paham ini dalam bidang ekonomi dan politik kerap menimbulkan kontroversi. Kritik yang paling sering dikemukakan terkait dengan penerapan paham liberalisme dalam bidang ekonomi adalah sebagai berikut. (1) terjadinya penyerahan pengelolaan aset-aset negara yyang menguasai hajat hidup orang banyak seperti minyak, pangan, air, dan bahan - bahan mineral ke tangan swasta; (2) berkurangnya peran dan campur tangan negara dalam kegiatan perekonomian; (3) adanya kecenderungan membiarkan pasar bergerak dengan mekanismenya sendiri tanpa campur tangan negara. Ketiga hal tersebut dianggap tidak adil, menumpuk kekayaan pada segelintir orang, memperlebar ketimpangan sosial-ekonomi, serta mengancam ketahanan kita sebagai bangsa. Oleh karena itulah, bapak-bapak. bangsa kita memilih sistem ekonomi yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, yaitu sistem ekonomi Pancasila, yang secara garis besar ditegaskan dalam Pasal 33 UUD 1945.

 

 

2)      Mengenal teknologi berbasis mesin

Penjajah Belanda mengenalkan Indonesia untuk pertama kalinya pada teknologi-teknologi baru berbasis mesin baik dalam bentuk mesin pengolah hasil bumi, teknologi transportasi maupun teknologi pertanian. Kelak setelah merdeka, yaitu melalui kebijakan nasionalisasi semua aset Belanda di Indonesia, teknologi-teknologi ini masih dapat dipakai dan bahkan dikembangkan untuk membangun Indonesia yang sudah merdeka.

Bangsa Indonesia misalnya mengenal mesin pengolah hasil bumi seperti mesin pengolah tebu menjadi gula, kelapa sawit menjadi minyak, biji kopi menjadi bubuk kopi, dan lain sebagainya. Mesin-mesin ini meningkatkan hasil produksi dengan lebih cepat dan efisien, tidak saja pada zaman pemerintah kolonial Belanda, tetapi juga sejak Indonesia merdeka.

Selain itu, munculnya sarana transportasi seperti penggunaan kereta api telah dapat menggantikan sistem pengangkutan tradisional (tenaga manusia ataupun hewan). Perkembangan transportasi juga memungkinkan terbentuknya Sejarah Indo jaringan yang luas antar wilayah, dan secara ekonomis mempercepat pengangkutan hasil-hasil perkebunan ke pabrik-pabrik serta distribusi hasil-hasil produksi ke pelabuhan-pelabuhan. Demikian pula dengan transportasi air: munculnya kapal-kapal bermesin memungkinkan transportasi hasil-hasil bumi antarpulau dapat dilakukan dengan cepat. Kemajuan transportasi juga memungkinkan bangsa Indonesia bisa mengenal satu sama lain, dari Barat sampai ke Timur. Pada akhir abad ke-19, kendaraan bermotor mulai diperkenalkan di Indonesia. Sepeda motor buatan Jerman masuk ke Indonesia pada tahun 1893.

3)      Mengenal teknologi komunikasi dan informasi

Tersedianya layanan kereta api dan kapal lain membuka peluang terwujudnya layanan di bidang lain seperti pos umum yang lebih teratur. Kehadiran telegraf dan telepon juga membuat komunikasi menjadi lebih lancar dan cepat.

Pada tahun 1925, radio siaran Bataviasche Radio Vereeniging (BRV) berdiri di Batavia (sekarang Jakarta). Setelah itu muncul Nederlandsch Indische Radio Omroep Mij (NIROM) di Batavia, Bandung, dan Medan. Di Solo berdiri Solossche Radio Vereeniging (SRV), sementara di Yogyakarta didirikan Mataramse Vereeniging voor Radio Omroep (MVRO).

Hampir semua radio itu didirikan oleh orang Belanda. Hanya SRV saja yang didirikan oleh orang Indonesia, yaitu oleh Mangkunegoro VII dan Sarsito Mangunkusumo. Perkembangan radio dan bahkan pertelevisian berkembang sangat pesat sejak Indonesia merdeka hingga kini.

 



            Sebelum membahas faktopr pendorong lahirnya pergerakan nasional Indonesia dan perkembangannya, terlebih dahulu lihat ciri khas perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme setelah tahun 1908.

            Sebelum 1908:

·         Dipimpin Raja atau bangsawan dan tokoh agama

·         Bersifat kedaerahan (lokal)

·         Perjuangan dilakukan secara fisik (bersenjata)

·         Terfokus pada pemimpin kharismatik

·         Bersifat reaktif dan spontan

Sesudah 1908:

·         Dipimpin dan digerakkan oleh kaum pelopor

·         Bersifat nasional dan telah ada kerja sama antar daerah

·         Diplomasi dengan menggunakan cara-cara modern seperti media, perundingan, lobi, mogok, dan sebagainya

·         Memiliki organisasi yang memungkinkan adanya kaderisasi

·         Memiliki visi dan misi yang jelas, yaitu Indonesia merdeka.

 

1.      Ciri Perjuangan Melawan Kolonialisme setelah Tahun 1908

Sebelum lahirnya kesadaran nasional, perjuangan melawan Belanda dipelopori raja, bangsawan, ataupun tokoh agama. Setelah tahun 1908, perjuangan melawan kolonialisme dimotori kaum terpelajar melalui organisasi-organisasi pergerakan. Sebagian dari kaum terpelajar ini memang berasal dari golongan bangsawan, namun mereka adalah orang-orang terdidik dan terpelajar.

A.    Dipimpin dan digerakkan oleh kaum terpelajar

Sebelum lahirnya kesadaran nasional, perjuangan melawan Belanda dipelopori raja, bangsawan, ataupun tokoh agama. Setelah 1908, perjuangan melawan kolonialisme dimotori kaum terpelajar melalui organisasi-organisasi pergerakan.

Sebagian dari kaum terpelajar ini memang berasal dari golongan bangsawan, namun mereka adalah orang-orang terdidik dan terpelajar. Munculnya kaum terdidik dan terpelajar pada masa ini tidak terlepas dari Politik Etis pemerintah Belanda. Semula dimaksudkan untuk memperoleh tenaga kerja murah, Pendidikan yang diselenggarakan bagi kaum pribumi pada awal abad ke-20 justru melahirkan golongan cendekiawan yang menjadi penggerak perjuangan melawan kolonialisme. Mereka itu antara lain dr. Sutomo, Suwardi Suryaningrat, Soekarno, Moh. Hatta, dan Sjahrir.

Organisasi-organisasi pergerakan itu memiliki karakteristik masing-masing; ada yang bersikap kooperatif-moderat dan ada pula yang bersikap nonkooperatif-radikal.

B.     Bersifat nasional

Setelah tahun 1908, hampir seluruh Nusantara menjadi satu kesatuan dalam politik, hukum, pemerintahan, dan berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Hal ini memang merupakan cita-cita besar Belanda melalui Pax Netherlandica-nya.

Keberhasilan Pax Netherlandica itu justru mampu menyatukan rakyat Indonesia dalam satu perasaan senasib-sepenanggungan. Penderitaan yang dialami satu daerah hal inilah yang menumbuhkan rasa persatuan dan yang pada akhirnya melahirkan kesadaran sebagai satu bangsa atau kesadaran berbangsa. Satu identitas

Kesadaran berbangsa ini tidak terlepas dari peran kaum terpelajar. Salah satu faktor yang memungkinkan terjadinya hubungan antarcendekiawan dari berbagai daerah adalah pendidikan.

C.    Perjuangan menggunakan jalur organisasi

Umumnya perjuangan melawan kolonialisme setelah tahun 1908 dilakukan dengan menggunakan jalur organisasi. Di sini, para tokoh perjuangan menggunakan cara-cara modern, seperti diplomasi, kampanye lewat media atau pers, rapat akbar, dan pada tingkat yang paling ekstrem menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial.

Penggunaan jalur organisasi dilatarbelakangi kesadaran bahwa bangsa Indonesia tidak sanggup menandingi kekuatan keuangan, persenjataan, serta organisasi politik-militer Belanda. Penggunaan media massa untuk menyuarakan aspirasi dianggap sebagai bagian dari upaya persuasi dan diplomasi itu. Melalui media-media massa itu, para aktivis organisasi pergerakan melakukan kritik serta agitasi menentang berbagai kebijakan pemerintah kolonial Belanda.

D.    Memiliki organisasi yang memungkinkan adanya kaderisasi

Sebelum lahirnya kesadaran nasional, perjuangan melawan Belanda umumnya bergantung pada satu atau dua tokoh yang dianggap kharismatis. Tokoh-tokoh itu umumnya berasal dari lingkungan istana (raja/bangsawan) ataupun dari kalangan ulama. Akibatnya, ketika sang tokoh wafat atau diasingkan, perlawanan pun berhenti. Setelah tahun 1908, perlawanan bergantung pada organisasi-organisasi pergerakan dengan system kaderisasi yang rapi. Dengan demikian, keberlangsungan Gerakan terjaga.

E.     Memiliki visi dan misi yang jelas, yaitu Indonesia yang merdeka

Perjuangan sebelum 1908 bertujuan membebaskan daerah masing-masing dari penguasaan Belanda. Seiring munculnya kesadaran nasional atau kesadaran berbangsa, perjuangan setelah 1908 melalui organisasi-organisasi pergerakan diarahkan pada satu visi dan misi yang jelas, yaitu kemerdekaan Indonesia.

2.      Faktor Pendorong Lahirnya Organisasi Pergerakan Nasional

A.    Faktor internal

                                                        I.            Kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang parah akibat penjajahan (kolonialisme)

Penindasan, kekejaman, eksploitasi, dan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial terhadap bangsa Indonesia, misalnya, telah menimbulkan kebencian dan ketidakpuasan rakyat, yang kemudian memicu perlawanan terhadap penjajah.

                                                     II.            Munculnya kaum terpelajar

Golongan elite bangsa kita ini seperti Soekarno, Moh. Hatta, Agus Salim, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantara berkesempatan mengenyam pendidikan modern. Di lembaga pendidikan modern itu, mereka mempelajari banyak hal termasuk ide-ide Pencerahan (Aufklarung), yang sebelumnya memicu terjadinya transformasi sosial-politik-ekonomi di Barat. Ide Pencerahan menekankan gagasan seperti otonomi, kebebasan, demokrasi, antiperbudakan, kesamaan hak dan martabat, dan sebagainya. Diilhami pengetahuan yang luas serta dibarengi pengalaman penderitaan sesama anak bangsa, para tokoh bangsa ini memelopori lahirnya organisasi-organisasi pergerakan dengan tujuan yang sama, yaitu Indonesia yang merdeka.

                                                  III.            Tumbuhnya kenangan akan kejayaan bangsa pada masa lampau

Di kalangan aktivis pergerakan pada masa itu, muncul kesadaran bahwa pada masa lampau Nusantara pernah mengalami masa kejayaan, terutama pada masa Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Wilayah kekuasaan kedua kerajaan ini bahkan melampaui Nusantara, yaitu dari Selat Malaka sampai ke Tanah Genting Kra di Thailand. Hal ini membangkitkan perasaan harga diri dan kepercayaan diri bahwa kita pun dapat membangun bangsa yang besar dengan kekuatan sendiri seperti pada masa-masa kerajaan besar itu.

B.     Faktor eksternal

Faktor eksternal yang ikut mendorong bangkitnya semangat nasionalisme di kalangan rakyat Indonesia adalah:

a)      Kesuksesan pergerakan nasional di negara-negara lain

Di Asia-Afrika seperti Cina, India, Filipina, Turki, dan Mesir membangkitkan semangat rakyat Indonesia untuk menikmati kesuksesan yang sama, yaitu kemerdekaan.

b)      Kemenangan Jepang atas Rusia

Dalam perang tahun 1905 menyadarkan bangsa Indonesia bahwa bangsa Barat bukanlah bangsa yang superior karena dapat dikalahkan oleh bangsa Asia.

c)      Masuk dan berkembangnya paham-paham baru dari Eropa dan Amerika

Seperti liberalisme, demokrasi, dan nasionalisme, yang membangkitkan motivasi golongan terpelajar untuk berjuang merebut kebebasan dari belenggu penjajahan.Perkembangan Pergerakan Nasional Indonesia Perkembangan nasionalisme Indonesia sejak Budi Utomo hingga kemerdekaan dapat dibagi dalam periode-periode sebagai berikut.

3.      Perkembangan Pergerakan Nasional Indonesia

Perkembangan nasionalisme Indonesia sejak Budi Utomo hingga kemerdekaan dapat dibagi dalam periode sebagai berikut

A.    Periode Awal Perkembangan

Pada periode ini, gerakan nasionalisme di Indonesia diwarnai perjuangan untuk memperbaiki kondisi sosial dan budaya. Sifat gerakannya moderat dan kooperatif dengan pemerintah kolonial Belanda. Beberapa organisasi yang muncul pada periode ini adalah Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Muhammadiyah.

1)      Budi Utomo (BU)

Didirikan pada 20 Mei 1908, Budi Utomo menjadi organisasi modern pertama yang memberikan inspirasi kepada kaum nasionalis lainnya untuk berjuang dengan basis organisasi modern. Oleh karena itu, tanggal kelahiran organisasi ini, yaitu tanggal 20 Mei, digunakan untuk memperingati hari kebangkitan nasional.

Organisasi ini dipelopori oleh Dr. Wahidin Soedirohoesodo (1857-1917), tamatan sekolah dokter pribumi School Tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) di Jakarta, ia mendirikan Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908.

Tujuan BU adalah memajukan pengajaran dan kebudayaan, dengan bidang: (1) pengajaran; (2) pertanian, peternakan, dan perdagangan; (3) teknik dan industri, dan (4) kebudayaan. Maka, dilihat dari tujuannya, Organisasi ini bersifat nonpolitik dan kooperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda.

BU mengadakan kongres pertamanya di Yogyakarta pada tanggal 3-5 Oktober 1908. Selain mempertegas posisinya sebagai sebuah gerakan sosial-budaya dan bukan gerakan politik, kongres juga memutuskan hal-hal lain sebagai berikut.

·         Ruang gerak terbatas pada daerah Jawa dan Madura.

·         Memilih R.T. Tirtokusumo, mantan Bupati Karanganyar sebagai ketua.

·         Yogyakarta menjadi pusat organisasi.

Salah satu faktor yang ikut meredupkan pengaruh BU adalah berdirinya Sarekat Islam pada tahun 1912. Dalam anggaran dasarnya, Sl tidak berpolitik. Namun, dalam praktiknya SI ikut bersuara lantang menentang praktik ketidakadilan serta penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Hal ini mengundang simpati yang luas dari masyarakat. SI semakin populer, dan pada saat yang sama BU mengalami kemunduran.

2)      Sarekat Islam (SI)

Sarekat Islam merupakan gerakan nasionalis, demokratis, dan ekonomis serta berasaskan Islam dengan haluan kooperatif. Organisasi didirikan oleh H. Samanhudi pada tahun 1911 dengan nama awal berdirinya Sarekat Dagang Islam. H. Samanhudi adalah seorang pedagang batik dari Laweyan Solo.

Organisasi SDI didasarkan pada dua hal, yakni: (1) agama, yaitu agama Islam; (2) ekonomi, yakni memperkuat kemampuan para pedagang Islam agar dapat bersaing dengan para pedagang asing seperti pedagang Tionghoa dan India.

Atas usul HOS Cokroaminoto, pada tanggal 10 September 1912 kata dagang dalam SDI dihilangkan sehingga hanya menjadi Sarekat Islam saja. Hal ini dimaksudkan agar ruang gerak organisasi tidak terbatas hanya dalam bidang perdagangan saja, tetapi juga dalam bidang-bidang lainnya. Nama dan visi baru itu tercermin dalam Akte Notaris yang dibuat pada tanggal 10 September 1912. Dalam akta notaris tersebut disebutkan tujuan Sl sebagai berikut.

·         Memajukan perdagangan,

·         Membantu para anggotanya yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha (permodalan),

·         Memajukan kepentingan rohani dan jasmani penduduk pribumi,

·         Memajukan kehidupan agama Islam.

Pada tahun 1913, organisasi ini melaksanakan kongres pertamanya di Surabaya. Dalam kongres tersebut diputuskan hal-hal sebagai berikut.

·         Sl bukan merupakan partai politik.

·         Sl tidak bermaksud melawan pemerintah Belanda.

·         HOS Cokroaminoto dipilih sebagai ketua SI dan menetapkan Surabaya sebagai pusat organisasi.

Keanggotaan Sl terbuka untuk semua lapisan masyarakat yang beragama Islam. Di bawah H.O.S. Cokroaminoto, SI mengalami perkembangan pesat. Selain di Surabaya yang menjadi pusatnya, cabang-cabang lain juga didirikan di kota-kota lain seperti Solo, Semarang, dan Cirebon. Arah perjuangannya pun diperjelas, yaitu memperkuat basis ekonomi rakyat agar kaum pribumi lebih mampu bersaing dan bebas dari ketergantungan ekonomi terhadap bangsa-bangsa asing.

Pada tahun 1915, Sentral Sarekat Islam (SSI) dibentuk dan berkedudukan di Surabaya. SSI adalah badan induk yang bertugas mengkoordinasikan serta memajukan organisasi SI daerah. SSI terlepas dari kenyataan bahwa organisasi SI daerah semakin banyak berkedudukan seperti pengurus besar Sl. Pembentukan SSI tidak terlepas dari kenyataan bahwa organisasi SI daerah semakin banyak dan karena itu perlu ada sebuah badan induk.

Pada tanggal 17-24 Juni 1916 diadakan kongres SI nasional pertama di Bandung, yang dihadiri oleh 80 SI lokal dengan anggota yang telah mencapai 360.000 orang anggota.

Dalam kongres tersebut disepakati istilah "nasional". Artinya, SI menganggap perlunya semua suku bangsa di Indonesia ini bersatu dan membentuk satu persatuan bangsa, yaitu bangsa Indonesia.

Setelah pemerintah colonial memperbolehkan berdirinya partai politik, Sl berubah menjadi partai politik. Sikap kritis Sl terhadap praktik kapitalisme serta komitmennya memperjuangkan rakyat kecil menarik perhatian Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) yang berhaluan marxis-komunis. Organisasi pimpinan Sneevliet (Belanda) ini kemudian menyusup ke Sl, di mana dua anggota Sl yang militant dan berbakat berhasil direkrut, yaitu Semaun dan Darsono. Kelak, bergabung juga Tan Malaka dan Alimin.

Awalnya, pimpinan SI tidak menaruh curiga karena menganggap garis dasar perjuangan SI dan ISDV sama. Dalam perkembangan selanjutnya, anggota ISDV di Sl gencar melancarkan kritik terhadap Sl. Mereka mengkritik sikap SI yang kooperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda serta keikutsertaan SI dalam kampanye Indie weerbaar (pertahanan Hindia). Maka, dengan hadirnya ISDV, muncul dua kubu dalam Sl:

Kubu nasionalis religius atau SI Putih, dengan asas perjuangan Islam di bawah pimpinan Cokroaminoto.

Kubu ekonomi-dogmatis yang dikenal dengan nama SI Merah, dengan haluan sosialis kiri (komunisme) di bawah pimpinan Semaun dan Darsono.

Demi menegakkan disiplin organisasi, Semaun dan semua pengurus yang berhaluan kiri kemudian dikeluarkan dari keanggotaan Sl. Mereka mendirikan Perserikatan Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1920, yang kemudian dan diubah lagi namanya menjadi Partai Komunis Indonesia pada tahun 1924.

Dalam kongres Sl pada bulan Februari 1923 di Madiun, Sarekat Islam mengganti namanya menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Pergantian nama dilakukan karena adanya anggapan bahwa ikatan dalam SI lemah. Perpecahan dalam PGKB (Persatuan Pergerakan Kaum Buruh) yang didirikan pada tahun 1919 dianggap mencerminkan hal tersebut. Selanjutnya, dalam kongresnya pada tahun 1926, PSI menerapkan politik hijrah atau bersikap nonkooperatif terhadap pemerintah kolonial, dengan alasan pemerintah kolonial mengabaikan hak-hak pribumi. Karena perubahan garis politik ini, Cokroaminoto menyatakan menolak ketika diangkat menjadi anggota Volksraad pada tahun 1927. PSI berganti nama lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSI) pada tahun 1929.

Pada tahun 1930, PSII mengalami kemerosotan karena terpecah menjadi tiga partai: PSII Kartosuwiryo, PSII Abikusno, dan PSII. Aktivitas partai ini terhenti sejak pendudukan Jepang.

3)      Muhammadiyah

Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912. Asas perjuangannya ialah Islam dan kebangsaan Indonesia, sifatnya nonpolitik dan kooperatif.

Muhammadiyah bergerak di bidang keagamaan, Pendidikan dan sosial, menuju kepada tercapainya kebahagiaan lahir-batin. Tujuan Muhammadiyah adalah sebagai berikut.

·         Memajukan pendidikan dan pengajaran berdasarkan agama Islam.

·         Mengembangkan pengetahuan ilmu agama dan cara-cara hidup menurut agama Islam.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, usaha yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah sebagai berikut.

·         Mendirikan sekolah-sekolah yang berdasarkan agama Islam, dari TK sampai dengan Perguruan Tinggi.

·         Mendirikan poliklinik-poliklinik, rumah sakit, rumah yatim, masjid, dan sebagainya.

·         Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan.

Pada masa kepemimpinan Ahmad Dahlan (1912-1923), pengaruh Muhammadiyah terbatas di karesidenan-karesidenan seperti Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan, daerah Pekalongan sekarang. Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922.

Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah (HAMKA) membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam. Dalam waktu relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah menyebar ke seluruh Tanah Minang itu. Dari daerah ini, Muhammadiyah kemudian bergerak ke seluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar ke seluruh wilayah Indonesia.

Organisasi ini bersifat nonpolitik dan kooperatif. Sementara itu, dalam gerakan sosialnya, organisasi ini sangat mendukung perjuangan meraih kemerdekaan. Selain itu, perannya dalam menumbuhkan kesadaran bangsa tentang pentingnya kemajuan dalam pendidikan dan kemerdekaan juga sangat besar.

B.     Periode Nasionalisme Politik

Dalam periode ini, gerakan nasionalisme di Indonesia mulai bergerak dalam bidang politik untuk meraih kemerdekaan Indonesia. Organisasi yang muncul pada periode ini adalah Indische Partij, Gerakan Pemuda, dan Gerakan Perempuan.

1)      Indische Partij (IP)

Indische Partij (IP) didirikan di Bandung pada 25 Desember 1912 oleh Tiga Serangkai, yakni Douwes Dekker (Setyabudi Danudirjo), dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Organisasi ini secara terang-terangan mengkritik pemerintah Belanda dan menuntut kemerdekaan Indonesia.

Cita-cita IP ini disebarluaskan melalui surat kabar De Expres, dengan semboyan Indische los van Holland, yang berarti Indonesia bebas dari Belanda, dan Indie voor Indiers, yang berarti Hindia untuk orang Hindia. Seluruh anggotanya menyebut diri Indiers, orang Indonesia. IP memperkenalkan paham kebangsaan yang disebut dengan Indische Nationalism atau Nasionalisme Hindia yang tidak membedakan keturunan, suku bangsa, agama, kebudayaan, bahasa, dan adat istiadat.

Adapun program kerja IP adalah:

·         Menyerapkan cita-cita nasional Hindia (Indonesia).

·         Memberantas kesombongan sosial dalam pergaulan baik di bidang pemerintahan maupun kemasyarakatan.

·         Memberantas usaha-usaha yang membangkitkan kebencian antara agama yang satu dengan yang lain.

·         Memperbesar pengaruh pro-Hindia di pemerintahan.

·         Mendapatkan kesamaan hak bagi semua orang Hindia.

·         Dalam hal pengajaran, kegunaannya harus ditujukan untuk kepentingan ekonomi Hindia dan memperkuat mereka yang ekonominya lemah.

Kritik yang terlalu keras membuat gerak-gerik para pemimpinnya diawasi ketat oleh pemerintah Belanda. Belanda pun menolak permohonan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum. Kecemasan Belanda terhadap organisasi ini mencapai puncaknya ketika ketiga pemimpin ini ditangkap dan dibuang ke negeri Belanda pada tahun 1913. Belanda beralasan, organisasi ini bersifat politik serta mengganggu ketertiban umum.

Pada tahun 1913, pemerintah Belanda menyatakan organisasi ini sebagai organisasi terlarang. Organisasi ini kemudian berganti nama menjadi partai Insulinde, dengan asas membina semangat nasionalisme dengan memperkuat persatuan bangsa. "Insulinde" tidak berumur panjang, dan pada tahun 1919 berubah lagi menjadi National Indische Partij (NIP).

Pada tahun 1914, Cipto Mangunkusumo dikembalikan ke Indonesia karena sakit, sedangkan Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker baru dikembalikan pada tahun 1919. Douwes Dekker tetap terjun ke dunia politik dan Suwardi Suryaningrat terjun ke dunia pendidikan dengan mendirikan Taman Siswa.

2)      Gerakan Pemuda

Gerakan pemuda tumbuh dan berkembang secara mandiri di berbagai daerah di Indonesia. Mula-mula dibentuk sebagai sebuah gerakan solidaritas yang bersifat informal, Gerakan pemuda ini kemudian menjelma menjadi sebuah Gerakan politik atau gerakan kebangsaan dengan cita-cita Indonesia merdeka dan maju.

Gerakan pemuda yang muncul pertama kali adalah Trikoro Dharmo (TK). Organisasi pemuda ini didirikan oleh R. Satiman Wiryosanjoyo, dkk.. di gedung STOVIA Jakarta pada tahun 1915. Trokoro Dharmo merupakan cikal-bakal Jong Java. TK memiliki tiga visi mulia, yaitu: sakti yang berarti kekuasaan dan kecerdasan, budi berarti bijaksana, dan bhakti berarti kasih sayang. Visi itu kemudian dikembangkan dalam tiga tujuan TK sebagai berikut.

·         Mempererat tali persaudaraan antarsiswa-siswi bumi putra pada sekolah menengah dan perguruan kejuruan.

·         Menambah pengetahuan umum bagi para anggotanya.

·         Membangkitkan dan mempertajam peranan untuk segala bahasa dan budaya.

Dalam kongres pertamanya di Solo pada tanggal 12 Juni 1918, organisasi ini kemudian mengubah namanya menjadi Jong Java. Kongres juga menetapkan perubahan haluan organisasi, dari semula organisasi nonpolitik menjadi organisasi politik.

Dalam kongresnya di Solo pada tahun 1926, Jong Java dalam anggaran dasarnya secara nyata menyebutkan hendak menghidupkan rasa persatuan seluruh bangsa Indonesia serta kerja sama dengan semua organisasi pemuda dalam rangka membentuk keindonesiaan. Dengan demikian, organisasi ini menghapus sifat Jawa-sentris serta mulai terbuka bekerja sama dengan pemuda-pemuda non-Jawa.

Organisasi kepemudaan lain dengan keanggotaan yang cukup besar adalah persatuan pemuda-pelajar Sumatera, yang bernama Jong Sumateranen Bond, yang didirikan pada tahun 1917 di Jakarta. Dari organisasi ini muncul nama-nama besar seperti Moh. Hatta, Moh. Yamin, dan Bahder Johan. Pada kongresnya yang ketiga, organisasi ini pernah melontarkan pemikiran Moh. Yamin, yaitu anjuran agar penduduk Nusantara menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dan bahasa persatuan.

Pada 1918, berdiri pula persatuan pemuda-pemuda Ambon, Jong Ambon. Selanjutnya, antara tahun 1918-1919 berdiri pula Jong Minahasa dan Jong Celebes. Salah satu tokoh yang lahir dari persatuan pemuda Minahasa adalah Sam Ratulangi.

Pada tahun 1926, berbagai organisasi kepemudaan ini menyelenggarakan Kongres Pemuda I di Jakarta. Meskipun tidak ada hasil-hasil yang penting, kongres ini telah menunjukkan adanya kekuatan untuk membangun persatuan dari seluruh organisasi pemuda yang ada di Indonesia.

Baru pada Kongres Pemuda II di Jakarta pada tanggal 26-28 Oktober 1928, 750 orang wakil dari organisasi-organisasi kepemudaan berhasil menunjukkan persatuan dan tekad yang sama melalui Sumpah Pemuda, yang isinya: mereka berikrar untuk "bertanah air satu, yaitu tanah air Indonesia, berbangsa satu, yaitu bangsa Indonesia dan berbahasa satu, yaitu Bahasa Indonesia. Dalam kongres ini pun untuk pertama kalinya lagu indonesia Raya ciptaan WR Supratman diperdengarkan.

Lagu ini kelak menjadi lagu kebangsaan negara Indonesia. Selain itu, dalam Kongres ini pula simbol identitas bangsa berupa bendera merah putih dikibarkan mengiringi lagu tersebut.

3)      Gerakan Perempuan

Kondisi perempuan Indonesia pada zaman pertengahan abad ke-19 masih jauh tertinggal dibandingkan dengan kaum lelakinya. Hal ini sedikit demi sedikit mengalami perubahan Ketika seorang putri bupati dari Jepara bernama R.A. Kartini, yang berkesempatan mengenyam pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah Belanda, menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam tulisan tentang kondisi perempuan pada masa tersebut.

Pemikiran itu ditulisnya dalam bentuk korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda seperti Stella Zeehandelar dan Profesor F.K. Anton. Oleh J.H. Abendanon surat-surat Kartini ini dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang kemudian diberi judul Door Duirtenis Tot Lich--Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini mencita-citakan sebuah masyarakat di mana ada kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, di mana perempuan dapat berpartisipasi dalam meningkatkan kemajuan bangsa bersama dengan laki-laki, di mana perempuan diberi kesempatan untuk bangkit dari ketertinggalannya.

Apa yang diperjuangkan Kartini kemudian dikenal dengan istilah emansipasi. Pemikiran Kartini banyak mendapat tanggapan positif dari kalangan perempuan. Hal itu terlihat dari banyaknya perkumpulan perempuan yang menyelenggarakan Pendidikan khusus bagi perempuan. Mengikuti jejak Kartini, mereka mengajarkan hal-hal yang terkait dengan keterampilan dasar rumah tangga dan banyak pengetahuan lainnya. Perkumpulan yang ada saat itu antara lain Perkoempoelan Keoetamaan Istri yang diasuh oleh Dewi Sartika dan pendirian Sekolah Kartini di seluruh kota di Indonesia.

Dalam Kongres Perempuan Indonesia I, yang berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 25-28 Desember 1928, perkumpulan-perkumpulan perempuan ini sepakat mendirikan sebuah federasi yang dapat menjadi wadah perjuangan yang dapat memajukan perempuan Indonesia. Federasi tersebut berhasil dibentuk dan diberi nama Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI) yang diketuai oleh Nyonya Sukanto. Pada tahun 1929, PPI diganti namanya menjadi Perhimpunan Istri Indonesia (PII).

Lahir pula organisasi perempuan lain yang bersifat nonkooperatif, yang dinamai perkumpulan "Istri Sedar". Tujuan perkumpulan ini lebih tegas, yaitu meningkatkan kesadaran perempuan agar tidak terlampau terikat dengan rumah tangga dan pendidikan saja, tetapi aktif juga dalam politik.

Pada tahun yang sama (1929) dibentuk pula Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak (P4A). Perkumpulan ini bersama dengan PII berhasil menyelenggarakan

Kongres Perempuan II di Jakarta 28-31 Desember 1929. Dalam kongres ini dibangun lagi satu kesepakatan bahwa semua perkumpulan perempuan berjuang untuk meningkatkan nasib dan derajat perempuan Indonesia dengan tidak mengaitkan diri dengan persoalan politik dan agama. Gerakan perempuan terus berlanjut hingga tahun 1941.

C.  Periode Radikal

1.      Pengertian

Periode radikal adalah masa di mana organisasi-organisasi pergerakan menolak bekerja sama atau bersikap nonkooperatif dengan pemerintah kolonial Belanda dan secara tegas menuntut kemerdekaan. Organisasi yang bergerak secara nonkooperatif di antaranya adalah Perhimpunan Indonesia (PI), PKI, dan PNI.

Para tokoh organisasi itu berpandangan bahwa upaya meraih kemerdekaan tidak dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan Belanda, tetapi harus menggunakan kemampuan dan kekuatan sendiri menurut mereka, bekerja sama dengan Belanda hanya akan semakin menjauhkan kita dari kemerdekaan.

2.      Latar belakang

                                                           I.         Pengaruh Doktrin Wilson Presiden Amerika Serikat

Woodrow Wilson pada bulan Januari 1918 mengumumkan 14 butir dasar penyelesaian yang adil untuk mengakhiri Perang Dunia I (1914-1918). Salah satu butir doktrin itu yang menarik anggota organisasi pergerakan adalah hak menentukan nasib sendiri (right of self-determination).

Semboyan ini menggema di seluruh dunia terutama di tanah jajahan serta menimbulkan harapan yang besar. Sejak tahun 1922, misalnya, Perhimpunan Indonesia mencantumkan asas perjuangan, yaitu self-help (menolong diri sendiri) dan self-reliance (mengandalkan diri sendiri). Dengan demikian, Pl secara tegas menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda.

                                                        II.         Pengaruh Revolusi Rusia 1917

Pada bulan Oktober 1917, kaum revolusioner berhaluan komunis di Rusia, yang disebut kaum Bolshevik, berhasil menggulingkan monarki Rusia yang saat itu diperintah oleh Tsar (Raja) Nicholas II. Manifesto Partai Komunis di Rusia menandaskan bahwa pembebasan negara-negara jajahan hanya dapat dilakukan dengan persatuan kaum buruh. Membaca manifesto itu serta keberhasilan revolusi Rusia, para aktivis PKI yang sebelumnya bergabung dalam partai ISDV (Indische Social Democratische Vereniging) pimpinan Sneevliet menjadi sangat revolusioner.

Menurut PKI, rezim penjajah di Indonesia hanya bisa digulingkan dengan cara yang sama, yaitu revolusi. Pada tahun 1927, PKI dinyatakan terlarang oleh pemerintahan Belanda. Setelah itu, PKI bergerak di bawah tanah.

                                                     III.         Kekecewaan terhadap Janji November (November Belofte)

Terdengar desas-desus di Hindia Belanda bahwa M.J. Troelstra, pemimpin Partai Buruh Sosial-Demokrat (Sociaal Democratische Arbeiders Partij/SDAP), telah mengambil alih kekuasaan di Nederland dari Ratu Wilhelmina dengan cara kekerasan. Pada tanggal 16 November 1918, anggota ISDV di Volksraad, Ch. G. Cramer memperkarsai terbentuknya koalisi di Volksraad antara partainya, Insulinde, Sarekat Islam (SI), dan Budi Utomo. Koalisi itu disebut Konsentrasi Radikal (Radikal Concentratie).

                                                     IV.         Perubahan Pasal 111 RR (Regerings Reglement)

Pada tanggal 1 September 1919, pemerintah kolonial Belanda mengubah Pasal 111 Regerings Reglement atau Peraturan Pemerintahan, yang berisi larangan mengadakan perkumpulan yang bersifat politik. Hak berserikat diakui penuh, termasuk menyangkut perkumpulan politik dalam batasan-batasan tertentu.

Batasan tersebut berlaku untuk perkumpulan yang bersifat rahasia serta yang dianggap mengganggu ketertiban umum. Dalam hal mengganggu ketertiban umum itu, gubernur jenderal memiliki hak externering, yaitu mengusir pelaku dari daerah Hindia Belanda, internering, yaitu mengasingkan pelaku ke suatu tempat, dan verbaning, yaitu melarang pelaku bertempat tinggal di suatu daerah. Perubahan ini mengakhiri era pengekangan hak berserikat, berkumpul, serta mengeluarkan pendapat sejak tahun 1854.

                                                    V.            Pergantian gubernur jenderal Hindia Belanda

Pada tahun 1921, van Limburg Stirum digantikan oleh Dirk Fock. Tidak seperti pendahulunya, Fock bersikap sangat reaksioner terhadap pergerakan nasional. la sangat menaruh curiga terhadap gerak-gerik organisasi-organisasi pergerakan serta menentang otonomi yang sudah sempat digaungkan sebelumnya. Sikap Fock tersebut menimbulkan kekecewaan baru, yang membuat kaum pergerakan semakin radikal.

                                                  VI.            (Pemakaian kata "Indonesia" sebagai identitas Kata "Indonesia" pertama kali digunakan oleh organisasi Indonesische Vereeniging pada saat rapat pergantian pengurus bulan April 1922. Rapat ini menghasilkan keputusan penting, yaitu mengganti nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging. Selanjutnya, mereka mengganti nama Nederland-Indie menjadi Indonesia. Dengan munculnya kata "Indonesia", kaum pergerakan merasa memiliki sebuah identitas bersama.

                                               VII.            Ikut sertanya kaum buruh dalam pergerakan nasional

Kekuatan utama PKI terletak pada anggota-anggotanya yang berasal dari kalangan buruh, seperti buruh trem dan kereta api, buruh pegadaian, buruh perkebunan, dan lain-lain. Bentuk perjuangan kaum buruh ini di bawah PKI adalah revolusioner-radikal. Diawali dengan mogok buruh pegadaian pada tahun 1922 dan mogok buruh trem dan kereta api pada tahun 1923, yang dipelopori oleh Tan Malaka dan Semaun, PKI kemudian berhasil memobilisasi sebuah perlawanan bersenjata terhadap pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1926, dengan kaum buruh dan petani sebagai pasukan garda depan.

3.      Organisasi-organisasi pergerakan yang bersifat radikal

 

A.    Perhimpunan Indonesia (PI)

Organisasi ini didirikan di Belanda pada tahun 1908 oleh para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di sana. Pemrakarsanya adalah Sutan Kasajangan Soripada dan R.M. Noto Soeroto.

Pada awalnya bernama Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia), dengan tujuan memperjuangkan kepentingan orang Indonesia yang ada di Belanda. Oleh karena itu, awalnya organisasi lebih banyak bergerak dalam bidang sosial-budaya.

Sejak bergabungnya Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) pada 1913, Pl mulai memikirkan mengenai masa depan Indonesia. Semenjak itulah organisasi sosial ini memasuki kancah politik.

B.     Partai Komunis Indonesia (PKI)

Aliran komunisme pertama kali dibawa ke Indonesia oleh B.J.F.M. Sneevliet, pada tahun 1913. la seorang pemimpin organisasi buruh sekaligus salah satu anggota dari Partai Buruh Sosial-Demokrat di Belanda. Pada tahun 1914, Sneevliet mendirikan sebuah organisasi yang bercorak Marxis Bernama Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV), dengan pusat di Semarang.

Awalnya karena tidak mendapat tanggapan di Indonesia, muncul ide dalam diri Sneevliet untuk bergabung dengan organisasi yang sudah ada. Ide ini tidak berhasil diwujudkan. Akhirnya, ISDV masuk dan menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh organisasi Sarekat Islam (SI). Politik infiltrasi (menyusup) ISDV ini berhasil memengaruhi dua orang pimpinan Sl cabang Semarang yang terkenal militan dan berbakat: Semaun dan Darsono. Dalam kongres ke-20 ISDV pada tahun 1920, nama IDV diganti menjadi Perserikatan Komunis Hindia dengan Semaun sebagai ketua.

Semaun dan Darsono pun berdiri di atas dua organisasi: organisasi yang satu ISDV dan organisasi yang lain Sl. Di SI, keduanya mengecam keras sikap rekan-rekannya yang kooperatif terhadap Belanda. Selain itu, untuk memperluas pengaruh dan keanggotaan ISDV, keduanya aktif menyosialisasikan ISDV di kalangan buruh yang bergabung dalam Sl.

Sikap dan langkah-langkah keduanya pun mengundang kekhawatiran petinggi organisasi. Apalagi, langkah mereka telah nyata-nyata menciptakan dua kubu besar dalam SI, yaitu golongan Cokroaminoto-Salim yang berhaluan sosialisme Islam dan berpusat di Yogyakarta (SI Putih) serta golongan Semaun yang berhaluan komunis dan berpusat di Semarang (SI Merah).

Dalam perkembangan selanjutnya, golongan Cokroaminoto mencurigai adanya ambisi Semaun dan Darsono mengambil alih pimpinan Sl. Mereka pun berupaya membendung pengaruh keduanya. Dalam kongres ke-6 SI pada Oktober 1921, atas usulan Agus Salim dan Abdul Muis, SI menegaskan diterapkannya disiplin kepartaian, terutama larangan merangkap keanggotaan partai.

Semaun, dkk. disuruh memilih: SI atau ISDV. Golongan Semaun memilih yang kedua, dan SI pun secara resmi pecah. Pada tanggal 23 Mei 1923, nama Perserikatan Komunis Hindia diganti lagi menjadi Partai Komunis Hindia. Pada tahun 1924, Partai Komunis Hindia menjadi Partai Komunis Indonesia.

Pada tahun ini bergabung tokoh baru seperti Alimin dan Muso. PKI berkembang cepat. Mereka melakukan gerakan-gerakan radikal seperti melakukan pemogokan di berbagai tempat di Jawa. Pada tahun 1926, PKI melancarkan pemberontakan di Jawa, yang disusul pada tahun 1927 di Sumatera Barat. Kedua pemberontakan ini gagal. Banyak tokohnya ditangkap dan dibuang ke Digul. Karena aksi-aksi radikalnya ini, PKI akhirnya dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh Belanda pada tahun 1927.

C.     Partai Nasional Indonesia (PNI)

Pada tahun 1925, berdiri sebuah organisasi yang bernama Algemeene Studie Club di Bandung yang diprakarsai oleh Ir. Soekarno. Soekarno berpendapat bahwa ideologi-ideologi yang berkembang di Indonesia seperti nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme dapat digunakan sebagai alat pemersatu bangsa. Atas inisiatifnya juga, perkumpulan ini kemudian mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia pada tahun 1927 dengan Soekarno sebagai ketuanya.

Perserikatan ini secara tegas bermaksud menjadi wadah bagi para nasionalis untuk memperjuangkan berdirinya negara Indonesia merdeka. Untuk mencapai tujuan itu, perserikatan ini memadukan semangat kebangsaan yang telah dirintis terlebih dahulu oleh organisasi-organisasi pergerakan yang sudah ada, termasuk kaum nasionalis yang revolusioner. Organisasi ini kemudian mengganti namanya menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI).

PNI berlandaskan pada 3 (tiga) asas:

·         self-help, yakni prinsip menolong diri sendiri, yang didasari keyakinan bahwa bangsa Indonesia dengan kekuatan sendiri mampu memperbaiki keadaan politik, ekonomi, dan sosial budaya yang telah rusak oleh penjajah;

·         nonkooperatif, yakni tidak mengadakan kerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda, dan

·         marhaenisme, yakni mengentaskan massa dari kemiskinan dan kesengsaraan.

 

D.    Partai Indonesia (Partindo)

Tekanan terhadap PNI mencapai puncaknya ketika para tokohnya Soekarno dan kawan-kawan dipenjarakan.

Hal ini mendorong para anggota PNI mengadakan kongres luar biasa. Sartono, sebagai pimpinan, menginginkan pembubaran PNI dan mencari format baru untuk melanjutkan perjuangan. Pembubaran ini dimaksudkan untuk menjaga anggota-anggota PNI lainnya agar tidak mendapatkan kesulitan karena dituduh sebagai anggota partai terlarang.

Sikap anggota partai yang menolak pembubaran disebut "Golongan Merdeka". Mereka kemudian membentuk organisasi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) dengan tokohnya Moh. Hatta dan Sjahrir. Golongan ini mengkritik ketergantungan pada seorang pemimpin, dan lebih menekankan pentingnya Pendidikan kader. Sementara itu, golongan yang setuju pembubaran membentuk suatu partai politik baru yang disebut "Partai Indonesia" atau Partindo pada tanggal 30 April 1931 dengan Soin Mr. Sartono sebagai ketuanya.

Dalam anggaran dasarnya disebutkan bahwa Partindo bertujuan mencapai sebuah negara Indonesia merdeka, dan kemerdekaan itu akan dapat tercapai jika seluruh komponen bangsa bersatu. Kemerdekaan yang dicita-citakan oleh Partindo adalah kemerdekaan yang berdasarkan pada prinsip menentukan nasib sendiri dan demokrasi. Dalam kerangka itu, Partindo bersikap nonkooperatif terhadap pemerintah kolonial. Ketika Bung Karno keluar dari penjara Sukamiskin pada pertengahan 1932, ia mendapati PNI (lama) telah terpecah menjadi dua yaitu PNI (Baru) dan Partindo. Bung Karno memilih Partindo sebagai basis perjuangannya.

Dalam kongres pada bulan Juli 1933, Soekarno Kembali mempertegas konsep Marhaenisme yang pernah dilontarkan pada masa PNI dulu, yaitu perjuangan bagi kaum Marhaen (rakyat kecil) yang merupakan mayoritas rakyat Indonesia. Sikapnya yang nonkooperatif membuat pemerintah kolonial kembali menangkap dan membuangnya ke Ende (Flores) pada tahun 1934 sampai 1938. Akibatnya, Partindo mengalami kemunduran dan bubar pada tahun 1936.

E.     Partai Nasional Indonesia Pendidikan (PNI Pendidikan atau PNI Baru)

Organisasi yang dibentuk 27 November 1931 ini berdiri karena ketidakpuasan sebagian anggota PNI (lama) atas pembubaran PNI. Menurut para penggerak PNI Baru, seperti Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir, apa yang dilakukan Sartono, dkk. Merupakan cermin sikap mudah menyerah terhadap sikap pemerintah Belanda yang memusuhi partai tersebut. PNI Baru berhaluan nasionalis dan demokrasi.

Walaupun haluan politik Partindo dan PNI Pendidikan itu sama, yaitu kemerdekaan dan nonkooperasi, strategi perjuangannya berbeda. Partai Nasional Indonesia Pendidikan (PNI Pendidikan) lebih menekankan pendidikan politik dan kesadaran berbangsa bagi para anggotanya. Bagi Hatta, pijakan pertama menuju Indonesia merdeka adalah menanamkan kesadaran bersama pada rakyat akan situasi dan kondisi mereka sebagai bangsa terjajah dan kemudian menyadari hak-hak mereka untuk menentukan nasib sendiri.

Untuk itu, sebagai langkah pertama adalah melalui pendidikan yang dapat menyemai kader partai yang militan dan terorganisasi dengan baik. Sementara itu, haluan politik Soekarno lebih ke arah agitasi politik. Tampaknya, Soekarno memang memiliki kemampuan untuk melancarkan agitasi politik. la paling suka mengumpulkan massa kemudian berpidato berapi-api mengobarkan semangat rakyat. Menurut Hatta, agitasi tidak membentuk fondasi yang kuat menuju Indonesia merdeka, sebab agitasi tidak melahirkan kesadaran dan cara pikir yang

matang.

PNI Baru gencar menyebarkan ide-ide perjuangannya, dengan media utama berupa surat kabar bernama "Daulat Rakyat". Karena sikapnya yang nonkooperatif, PNI Baru juga mengalami tindakan represif dari pemerintah kolonial: Hatta dan Sjahrir ditangkap lalu dibuang ke Boven Digul, Papua, pada tahun 1934 kemudian ke Banda pada tahun 1936.

Tidak lama kemudian keduanya dipindahkan ke Sukabumi, Jawa Barat dan dibebaskan pada saat pendudukan Jepang. Akibatnya, PNI Baru tidak berkembang.

D.       Periode Bertahan

1)      Pengertian

Periode bertahan adalah periode di mana gerakan nasionalisme di Indonesia berupaya lebih moderat dan menahan diri. Sikap moderat berarti kembali bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda. Sikap ini diambil agar organisasi pergerakan tidak dibubarkan Belanda dan para tokohnya tidak ditangkap ataupun diasingkan. Dengan demikian, diharapkan kelangsungan hidup organisasi pergerakan serta kesinambungan perjuangan menuju Indonesia merdeka tetap terjaga. Kaum pergerakan belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa sikap radikal merugikan bangsa Indonesia.

Organisasi yang berkembang pada periode ini adalah Parindra, GAPI, Gerindo. Mereka memaksimalkan Volksraad sebagai wadah perjuangan meraih kemerdekaan. Sebab, hanya organisasi yang moderat-kooperatif yang dapat mengirimkan wakilnya di Volksraad.

2) Latar belakang

Sejak pemerintahan Dirk Fock, yang memerintah pada 1921-1926, organisasi pergerakan dikendalikan dengan peraturan yang keras. Pada masa Gubernur Jenderal B.C. de Jonge (1931-1936), peraturan bahkan dibuat lebih keras lagi. Apalagi, pada masanya banyak organisasi pergerakan nasional kita mengambil sikap radikal terhadap Belanda. Hal ini membuat kaum aktivis pergerakan tidak leluasa mewujudkan cita-cita politiknya: Indonesia merdeka.

Melalui Vergader Verbond yang dikeluarkan pada tahun 1933, ruang gerak kaum aktivis pergerakan nasional semakin sempit. Dalam kenyataannya, peraturan itu tidak menyurutkan langkah para tokoh pergerakan. Bagi mereka, untuk mencapai Indonesia merdeka, tidak ada pilihan lain: menolak bekerja sama dengan Belanda termasuk menolak menaati segala peraturannya.Mereka juga siap menerima risiko ditangkap dan diasingkan.

Dalam perkembangannya, terutama dengan dibuangnya para tokoh penting, para aktivis pergerakan merasa bahwa pilihan sikap radikal kurang menguntungkan Indonesia. Mereka pun mengambil sikap yang lebih taktis dan moderat namun tidak meninggalkan visi dasar perjuangan, yaitu mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

3) Perjuangan melalui Volksraad

Di Volksraad, tokoh-tokoh pergerakan lintas partai atau organisasi melanjutkan perjuangan. Meskipun wewenangnya terbatas, Volksraad merupakan satu-satunya tempat yang aman untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah kolonial Belanda. Pada tanggal 27 Januari 1930, M.H. Thamrin memprakarsai berdirinya Fraksi Nasional dalam Volksraad. la sendiri memimpin fraksi tersebut, dan wakilnya adalah Kusumo Utoyo. Tujuan utamanya adalah meraih kemerdekaan Indonesia secepat-cepatnya. Dalam rangka mencapai tujuannya, yaitu kemerdekaan secepat-cepatnya, Fraksi Nasional melakukan usaha-usaha seperti:

a)      Mendesak segera dilakukannya perubahan ketatanegaraan.

b)      Melenyapkan semua perbedaan politik, ekonomi, danpendidikan yang diakibatkan oleh penjajahan.

c)      Menggunakan semua jalan yang sah untuk mencapai tujuan tersebut.

4) Organisasi-organisasi pergerakan pada periode bertahan

a)      Taman Siswa

Taman Siswa merupakan salah satu organisasi pergerakan dengan focus kegiatan dalam bidang pendidikan. Didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta, organisasi ini meyakini pendidikan sebagai sarana yang efektif untuk mewujudkan transformasi sosial dan menjadi resep unggulan untuk memajukan bangsa. Dengan demikian, gerakan ini tidak bersifat politik. Organisasi ini berdiri sebagai bentuk perjuangan alternatif di tengah kerasnya tekanan pemerintah Belanda terhadap keberadaan organisasi pergerakan ketika itu. Ki Hajar menerapkan 3 konsep pengajaran dalam kegiatan pendidikan di Taman Siswa, yaitu:

·         Ing ngarsa sung tulodo, artinya para guru yang memiliki tanggung jawab memberikan pendidikan, harus dapat memberi contoh dengan sikap dan perilaku yang baik, sehingga dapat menjadi teladan bagi siswanya.

·         Ing madyo mangun karsa, artinya guru harus memotivasi siswanya, membimbing secara terus-menerus agar siswa dapat berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya.

·         Tut wuri handayani, artinya guru wajib membimbing siswa untuk dapat menggali sendiri pengetahuannya, menemukan makna dari pengetahuan yang diperolehnya, sehingga pengetahuan itu dapat berguna bagi kehidupannya.

b)      Partai Indonesia Raya (Parindra)

Pada tahun 1931, dr. Sutomo, pimpinan Budi Utomo, mendirikan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Organisasi ini merupakan kelanjutan dari Indonesische Studie Club yang didirikannya pada tahun 1924. Dengan PBI, ia bermaksud menempuh jalan kooperatif dalam sebuah wadah partai yang lebih besar.

Pada tanggal 24-26 Desember 1935 diselenggarakanlah kongres yang menyatukan Budi Utomo dengan PBI. Kongres yang diadakan di Surakarta ini dibuat dalam rangka menyatukan partai-partai kecil untuk memperoleh kekuatan yang besar. Hasil fusi menghasilkan sebuah partai baru yang kemudian dinamakan Partai Indonesia Raya (Parindra) dengan ketua terpilih dr. Sutomo. Kongres juga menetapkan Surabaya sebagai kantor pusat Parindra.

Selain PBI dan Budi Utomo, bergabung pula Serikat Sumatera dan Serikat Celebes, dengan tujuan terwujudnya Indonesia Raya. Dalam kongres pertama hasil fusi di Jakarta pada tanggal 15-18 Mei 1937, Parindra menunjukkan sikap kooperatif dan moderat, yang membuatnya dapat mendudukkan wakilnya di Volksraad. Parindra kemudian berjuang untuk dapat memasukkan wakil sebanyak-banyaknya ke dalam Volksraad dalam rangka memengaruhi kebijakan politik pemerintah kolonial.

c)      Gabungan Politik Indonesia (GAPI)

Sesuai dengan namanya, GAPI merupakan gabungan dari berbagai partai politik yang ada di Indonesia. Organisasi ini didirikan oleh Mohammad Husni Thamrin pada tanggal 21 Mei tahun 1939. Partai-partai yang bergabung dalam GAPI di antaranya: Parindra, Gerindo, PSII, Persatuan Partai Katolik, Persatuan Minahasa, Partai Pasundan, dan Partai Islam Indonesia (PII). Meskipun berada dalam sebuah kesatuan, organisasi ini bersifat federasi--partai-partai yang bergabung tetap memiliki kemerdekaan penuh terhadap programnya masing-masing. Dalam anggaran dasarnya diterangkan tiga asas perjuangan

GAPI:

·         hak untuk menentukan diri sendiri;

·         persatuan nasional seluruh bangsa Indonesia dengan berdasarkan kerakyatan dalam paham politik, ekonomi, dan sosial;

·         persatuan aksi seluruh pergerakan Indonesia.

D. KOLONIALISME DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEHIDUPAN POLITIK, SOSIAL, DAN BUDAYA MASYARAKAT INDONESIA KINI