1. 1. Pengaruh Kolonialisme Portugis
a. Agama
Menurut Lombard, umat Kristen tertua Indonesia adalah Katolik. Penyebaran agama ini dimulai jauh sebelum kedatangan Portugis, yaitu sejak abad ke-14. Pada abad itu, sejumlah rohaniwan Katolik singgah di Kepulauan Nusantara. Di antara mereka adalah Odorico de Pordonone, yang mengadakan perjalanan dari Eropa ke Cina. Pada tahun 1321, ia singgah di istana Majapahit dan Bandar Lamuri di Aceh. Seorang rohaniwan Fransiskan yang bernama Joao de Marignolli mengikuti jejaknya dan tercatat pernah diterima dengan baik di istana Samudra Pasai pada tahun 1347.
Akan tetapi, penyebaran agama Katolik dengan pengaruh yang lebih besar terjadi pada saat kedatangan Portugis di Nusantara. Komunitas Kristen yang dipengaruhi Portugis tersebar di Kepulauan Maluku dan daerah tertentu di Kepulauan Sunda Kecil seperti Nusa Tenggara Timur. Misionaris terbesar yang datang ke Maluku adalah Fransiscus Xaverius (1506-1552), seorang anggota Serikat Yesus. La mengunjungi Ambon, Ternate, dan Halmahera antara tahun 1546 hingga 1547.
Misionaris lainnya adalah para biarawan dari Ordo Fransiskan dan Dominikan. Mereka memperkenalkan agama Katolik di kalangan penduduk di Nusa Tenggara Timur, yang berpusat di Larantuka (Flores Timur). Selanjutnya, mereka menyebarkan agama Katolik ke Minahasa, Bolaang Mongundow, Pulau Siau, Sangihe Talaud, Blambangan, dan Panarukan.
Agama Katolik yang dibawa Portugis dan Spanyol berkembang sangat baik di Flores dan Timor. Saat ini, pengaruh Portugis masih dapat ditemukan dalam bentuk warisan nama-nama yang dipakai orang Timor dan Flores bagian Timur yang mirip dengan nama-nama orang Portugis, seperti da Cruz, da Costa, dan Cunha, de Rozari, da Gomes, Fernandez, Rodriquez, dan lain-lain.
b. Kesenian
Pengaruh Portugis dalam bidang kesenian tampak pada musik Keroncong. Kita masih bisa menemukan peninggalannya di Kampung Tugu, Jakarta Utara.
Musik keroncong berasal dari musik Portugis abad ke-16 yang disebut fado. Musik ini tadinya populer di lingkungan perkotaan Portugis. Awalnya fado merupakan sejenis nyanyian bernuansa ratapan (mornas) yang dibawa para budak negro dari Cape Verde, Afrika Barat ke Portugis sejak abad ke-15. Lambat-laun, fado berkembang menjadi lagu perkotaan dan mengiringi tari-tarian. Tarian yan diiringi fado dipengaruhi budaya Islam yang dibawa bangsa Moor asal Afrika Utara saat menaklukkan Selat Gibraltar di bawah pimpinan panglima Tariq ibn Ziyad pada abad ke-7 Masehi. Setelah dipengaruhi Islam, tarian tersebut dinamakan moresco. Moresco adalah tarian hiburan para elite Portugis yang biasanya dibawakan oleh penari dari bangsa Moor.
Alat musik pengiring moresco adalah gitar kecil bernama cavaquinho. Gitar ini dibawa para pelaut Portugis dalam era penjelajahan samudera. Ketika masuk Indonesia, alat musik tersebut digunakan untuk menyanyikan lagu pengiring tarian moresco. Karena suara yang dikeluarkan berbunyi crong-crong, orang Indonesia menamai musik pengiring tarian tersebut keroncong.
Di Jakarta, peninggalan budaya Portugis selain keroncong adalah Tanjidor dan Ondel-ondel. Selain Jakarta, jejak-jejak Di Jakarta, peninggalan budaya Portugis selain keroncong peninggalan budaya Portugis dalam bidang kesenian masih membekas di tempat-tempat di Nusantara, seperti Maluku Utara, Maluku Tengah, Ambon, Solor, dan Flores.
c. Bahasa
Dalam bidang bahasa, banyak kosakata bahasa Portugis diserap ke dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh, biola (viola) meja (mesa), mentega (manteiga), pesiar (passear), pigura (figura), pita (fita), sepatu (sapato), serdadu (soldado), cerutu (charuto), jendela (janela), algojo (algoz), bangku (banco), bantal (avental), bendera (bandeira), bolu (balo), boneka (boneca), armada, bola, pena, roda, ronda, sisa, tenda, dan tinta.
2. Pengaruh Kolonialisme Belanda
a. Bidang Sosial Budaya
1) Mentalitas Inlander
Istilah mentalitas inlander. Secara harfiah, itu berarti mentalitas khas orang pribumi, yang dikonotasikan secara negatif sebagai orang mengidap rasa rendah diri akut serta menakar diri lebih rendah dibandingkan orang-orang atau bangsa-bangsa lainnya. Bangsa-bangsa lain, terutama bangsa-bangsa Barat, dianggap lebih hebat, lebih maju, lebih beradab, lebih modern, lebih pintar, dan bangsa sendiri dianggap lebih rendah harjat dan martabatnya, kurang beradab, serta kurang maju.
Mengapa disebut mentalitas khas orang pribumi? Dikatakan demikian karena mentalitas ini dianggap telah mandarah daging serta menjadi bagian dari pola hidup dan perilaku rakyat Indonesia. Mentalitas itu mendarah daging karena dirawat dan dikembangkan oleh sistem yang juga melahirkannya, yaitu sistem feodalisme. Oleh Belanda, sistem ini dimanfaatkan dan dipelihara untuk melanggengkan kekuasaannya di Indonesia.
Pada masa penjajahan, penyakit mental bangsa Indonesia ini dimanfaatkan dan dipelihara oleh Belanda. Dengan begitu, bangsa Indonesia sulit memiliki perasaan percaya diri dan perasaan mampu membangun bangsanya sendiri secara mandiri.
Belanda berulang kali mengatakan bahwa warga pribumi adalah bangsa yang bodoh dan hanya pantas menjadi budak Belanda. Selain itu, kebijakan ekonomi-politik dibuat sedemikian rupa sehingga mentalitas inlander itu tetap terpelihara. Terkait dengan pemungutan pajak verplichte leverantie dan contingenten, misalnya, Belanda menugaskan elite-elite pribumi. jika mereka berhasil mengumpulkan hasil bumi melebihi target, mereka akan mendapatkan hadiah yang lebih dikenal dengan istilah batig slot (saldo lebih). Kondisi tersebut menyebabkan ketergantungan elite pribumi terhadap pemerintah kolonial menjadi makin tinggi.
2) Pendidikan
Sistem pendidikan Barat di Indonesia digarap Belanda sejak abad ke-18. Pada akhir abad ke-19, sistem pendidikan yang berkembang di Indonesia semakin banyak.
Sistem persekolahan Belanda awalnya bersifat segregatif: ada sekolah khusus Belanda dan Eropa seperti Europesche Lagere School (ELS), ada sekolah khusus untuk orang-orang keturunan Tionghoa seperti Hollandsch Chineseesche School, dan ada sekolah khusus untuk pribumi seperti Indlansdche School.
Pendidikan semakin tegas tatkala Politik Etis diberlakukan pada tahun 1911. Politik Etis mereorganisasikan serta mengembangkan sekolah-sekolah baru pada semua jenjang pendidikan. Hal ini antara lain berupa sekolah dasar, Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah menengah pertama, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan sekolah menengah atas, Algemeene Middelbare School (AMS); sekolah-sekolah kejuruan, seperti sekolah pegawai sipil pribumi, Opleidengschool voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA), dan dua sekolah kejuruan medis selevel universitas tingkat awal, School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) dan Nederlandsch-Indische Artssenschool (NIAS); dan lembaga pendidikan level universitas, Technische Hoogeschool (THS, Sekolah Tinggi Teknik), di Bandung pada tahun 1920-meski pada awalnya kehadiran THS ini di luar desain pemerintahan kolonial, karena didirikan atas inisiatif sebuah yayasan perkebunan swasta Belanda, dan baru diambilalih oleh pemerintah pada tahun 1924. Sejalan dengan itu, terjadi pula perluasan pengajaran bahasa-bahasa Eropa, serta inisiatif pengiriman secara selektif anak-anak keluarga bangsawan untuk bersekolah ke negeri Belanda.
Dari model pendidikan seperti itu, muncul kaum terpelajar baru di luar priyayi lama dan masyarakat Eropa di Hindia Belanda.Penguasaan mereka atas bahasa Eropa, dibarengi kehadiran bahan pustaka dan industri penerbitan, memberi mereka kesempatan untuk mengakses pengetahuan dan informasi termaju pada zamannya secara langsung.
Pengaruh penjajahan Barat dalam bidang pendidikan yang pengaruhnya bisa terasa hingga kini adalah kehadiran Lembaga pendidikan dan penelitian modern, perkembangan tulisan latin, percetakan dan pers, dan gaya hidup.
3) Bahasa
Bahasa Belanda juga banyak memengaruhi bahasa Indonesia dan bahasa Jawa serta bahasa-bahasa Nusantara lainnya. Kata- kata pinjaman dalam bahasa Belanda seperti knalpot, bekleding, vermaak, achteruit, absurd, afdruk, belasting, bestek, bom, bretel, debat, degen, drama, elan, fabel, flop, fotomodel, fraude, garasi, giro, gratis, handel, harem, hutspot, inklaring, jas, kabinet, kanker, kansel, krat, lading, loket, marmer, masker, matras, mondeling, nota, oma, onderneming, opa, pan, pater, punt, rekening, rimpel, salaris, sigaret, skelet, spoor, tank, testikel, tol, urine, vla, wastafel, dan wortel telah dikenal dan digunakan sebagai Bahasa Indonesia.
Untuk urusan lalu lintas dan mobil kita menggunakan atret (dari achteruit), verboden, pit (dari fiets), knalpot, rem, persnelling (dari versnelling), dongkrak, schokbreker, dan seterusnya.
4) Gaya Hidup
Penjajah Belanda juga membawa gaya hidup yang memengaruhi kehidupan sebagian rakyat Indonesia. Karena itu, muncul istilah "gaya hidup yang kebarat-baratan". Istilah westernisasi kiranya tidak terlalu tepat untuk menunjukkan gejala ini karena "gaya hidup Barat" itu tidak disebarkan secara terencana dan sistematis, juga tidak memengaruhi secara mendasar hidup sebagian besar orang. Pengaruh itu terlihat di kalangan bangsawan dan birokrat kolonial, sedangkan sebagian besar rakyat Indonesia masih tetap menjalani gaya hidup lama (feodal-tradisional).
"Gaya hidup yang kebarat-baratan" itu, misalnya, tampak dalam kebiasaan minum-minuman keras, pesta, dansa (menari khas Belanda atau Barat), gaya perkawinan, dan model berpakaian (rok, jas, dasi, topi). Selain itu, bangsa Barat juga memperkenalkan sekaligus membiasakan sikap disiplin, menghargai waktu, demokratis dan terbuka, serta bersikap rasional.
5) Berkembangnya agama Kristen Protestan di Indonesia
Pada tahun 1617, Parlemen Belanda menginstruksikan kepada Gubernur Jenderal VOC dan Raad van Indie untuk bertanggung jawab menyebarkan agama Kristen dan mengajarkannya melalui sekolah-sekolah dengan bahasa belanda sebagai bahasa pengantar. Saat ini, kita dapat menyaksikan sebagian daerah di Nusantara yang mayoritas masyarakatnya beragama Kristen Protestan, seperti Sulawesi Utara, Timor Barat, Alor, Sumba, sebagian wilayah Tapanuli, Tana Toraja, Maluku bagian selatan, serta Papua.
b. Bidang Ekonomi
Pengaruh ekonomi yang membekas sampai sekarang terutama sejak diberlakukannya sistem Tanam Paksa dan kebijakan Pintu Terbuka (sistem ekonomi liberal). Pengaruh sistem Tanam Paksa, misalnya, tampak dalam dua hal: (1) petani pribumi mulai mengenal jenis-jenis tanaman-tanaman komoditi lain seperti kopi dan teh. (2) petani mulai mengenal sistem upah, yang sebelumnya tidak dikenal (masyarakat lebih mengutamakan sistem gotong-royong).
Sementara itu, sistem ekonomi liberal membuat rakyat Indonesia mengenal hal-hal berikut.
1) Sistem sewa tanah. Aturan sewa tanah kepada pihak asing dengan status hak guna usaha selama jangka waktu tertentu masih tetap berlaku hingga sekarang.
2) Ekonomi uang. Karena diterapkannya sistem ekonomi liberal pada masa kolonial, masyarakat Indonesia akhirnya mengenal adanya alat tukar berupa uang. Sistem uang tersebut sekaligus mengubah sistem barter.
3) Sistem kerja kontrak. Pada tahun 1888, pemerintah kolonial membuat peraturan yang disebut Koeli Ordonantie. Peraturan itu dibuat untuk mengatur masalah perburuhan. Pengaturan perburuhan dipandang perlu karena pembukaan dan perluasan perkebunan dan pertambangan berdampak pada meningkatnya kebutuhan tenaga kerja.
c. Bidang Politik
Pengaruh penjajahan Belanda dalam bidang politik tampak dalam hal birokrasi. Sistem pemerintahan kolonial di bawah pimpinan gubernur jenderal dirancang seperti lembaga eksekutif yang kita kenal saat ini. Dalam mengelola pemerintahan, gubernur jenderal dibantu oleh enam departemen, yaitu kehakiman, keuangan, dalam negeri, kebudayaan dan kepercayaan, ekonomi, serta kesejahteraan umum. Ada juga departemen militer, yaitu departemen peperangan dan angkatan laut. Departemen-departemen ini mirip dengan kabinet dalam sistem pemerintahan presidensial sekarang ini.
d. Bidang Hukum
Jauh sebelum era kolonialisme, di Indonesia berlaku hukum adat, yang merupakan kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang biasanya tidak tertulis. Pada masa kolonialisme Belanda, hukum Belanda mulai diperkenalkan di Indonesia. Meskipun demikian, hukum Belanda itu hanya berlaku untuk orang Belanda dan bangsa Eropa lainnya. Bagi orang Indonesia, berlaku hukum adat. Setelah Indonesia merdeka, bahkan sampai sekarang, sistem hukum Belanda itu dijadikan salah satu pilar sistem hukum Indonesia. Hal ini nyata dalam pasal-pasal KUH-Pidana dan KUH-Perdata. Selain itu, dua pilar lain sistem hukum Indonesia adalah sistem hukum adat dan sistem hukum Islam. Sebagai contoh sederhana, istilah-istilah hukum kita masih menggunakan kosa kata bahasa Belanda, seperti ruilslag (tukar guling), gijzeling (penyanderaan), advokat (pengacara), beslag (sita), in kracht (putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap), bezet (diduduki), dan masih banyak lagi.
e. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
1) Mengenal paham liberalism
Diterapkannya kebijakan Pintu Terbuka pada abad ke-18 oleh pemerintah kolonial membuat rakyat Indonesia mengenal paham liberalisme. Paham ini memengaruhi kebijakan ekonomi dan politik Indonesia sampai sekarang ini.
Penerapan gagasan liberal dalam bidang ekonomi di Indonesia waktu itu kurang sejalan dengan cita-cita awalnya. Meskipun demikian, setidaknya bangsa Indonesia mengenal pentingnya kebebasan dan kesetaraan dalam semua bidang kehidupan. Kedua gagasan inilah jantung paham liberalisme.
Dalam bidang ekonomi, paham ini mengusung perdagangan bebas, pengakuan terhadap hak milik pribadi, pembatasan terhadap campur tangan negara dalam untuk melakukan kegiatan ekonomi. Semua unsur ini bersatu di perekonomian dan memberi kebebasan kepada pihak swasta bawah sistem yang disebut kapitalisme. Di bawah sistem ini, segala potensi dan kreativitas-inovasi individu untuk melakukan aktivitas ekonomi diberi ruang yang besar. Hal ini pada gilirannya mendorong munculnya para wirausahawan, yang menciptakan lapangan kerja, menghasilkan pajak bagi negara, menumbuhkan persaingan yang sehat, dan seterusnya.
Dalam bidang politik dan sosial-budaya, paham liberalisme mengusung pemilihan umum yang bebas dan fair, adanya pengakuan terhadap hak-hak sipil (seperti kebebasan berpendapat), kebebasan pers, kebebasan beragama, dan supremasi hukum. Dalam perkembangannya muncul juga gagasan kesetaraan jender.
Sampai saat ini, penerapan paham ini dalam bidang ekonomi dan politik kerap menimbulkan kontroversi. Kritik yang paling sering dikemukakan terkait dengan penerapan paham liberalisme dalam bidang ekonomi adalah sebagai berikut. (1) terjadinya penyerahan pengelolaan aset-aset negara yyang menguasai hajat hidup orang banyak seperti minyak, pangan, air, dan bahan - bahan mineral ke tangan swasta; (2) berkurangnya peran dan campur tangan negara dalam kegiatan perekonomian; (3) adanya kecenderungan membiarkan pasar bergerak dengan mekanismenya sendiri tanpa campur tangan negara. Ketiga hal tersebut dianggap tidak adil, menumpuk kekayaan pada segelintir orang, memperlebar ketimpangan sosial-ekonomi, serta mengancam ketahanan kita sebagai bangsa. Oleh karena itulah, bapak-bapak. bangsa kita memilih sistem ekonomi yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, yaitu sistem ekonomi Pancasila, yang secara garis besar ditegaskan dalam Pasal 33 UUD 1945.
2) Mengenal teknologi berbasis mesin
Penjajah Belanda mengenalkan Indonesia untuk pertama kalinya pada teknologi-teknologi baru berbasis mesin baik dalam bentuk mesin pengolah hasil bumi, teknologi transportasi maupun teknologi pertanian. Kelak setelah merdeka, yaitu melalui kebijakan nasionalisasi semua aset Belanda di Indonesia, teknologi-teknologi ini masih dapat dipakai dan bahkan dikembangkan untuk membangun Indonesia yang sudah merdeka.
Bangsa Indonesia misalnya mengenal mesin pengolah hasil bumi seperti mesin pengolah tebu menjadi gula, kelapa sawit menjadi minyak, biji kopi menjadi bubuk kopi, dan lain sebagainya. Mesin-mesin ini meningkatkan hasil produksi dengan lebih cepat dan efisien, tidak saja pada zaman pemerintah kolonial Belanda, tetapi juga sejak Indonesia merdeka.
Selain itu, munculnya sarana transportasi seperti penggunaan kereta api telah dapat menggantikan sistem pengangkutan tradisional (tenaga manusia ataupun hewan). Perkembangan transportasi juga memungkinkan terbentuknya Sejarah Indo jaringan yang luas antar wilayah, dan secara ekonomis mempercepat pengangkutan hasil-hasil perkebunan ke pabrik-pabrik serta distribusi hasil-hasil produksi ke pelabuhan-pelabuhan. Demikian pula dengan transportasi air: munculnya kapal-kapal bermesin memungkinkan transportasi hasil-hasil bumi antarpulau dapat dilakukan dengan cepat. Kemajuan transportasi juga memungkinkan bangsa Indonesia bisa mengenal satu sama lain, dari Barat sampai ke Timur. Pada akhir abad ke-19, kendaraan bermotor mulai diperkenalkan di Indonesia. Sepeda motor buatan Jerman masuk ke Indonesia pada tahun 1893.
3) Mengenal teknologi komunikasi dan informasi
Tersedianya layanan kereta api dan kapal lain membuka peluang terwujudnya layanan di bidang lain seperti pos umum yang lebih teratur. Kehadiran telegraf dan telepon juga membuat komunikasi menjadi lebih lancar dan cepat.
Pada tahun 1925, radio siaran Bataviasche Radio Vereeniging (BRV) berdiri di Batavia (sekarang Jakarta). Setelah itu muncul Nederlandsch Indische Radio Omroep Mij (NIROM) di Batavia, Bandung, dan Medan. Di Solo berdiri Solossche Radio Vereeniging (SRV), sementara di Yogyakarta didirikan Mataramse Vereeniging voor Radio Omroep (MVRO).
Hampir semua radio itu didirikan oleh orang Belanda. Hanya SRV saja yang didirikan oleh orang Indonesia, yaitu oleh Mangkunegoro VII dan Sarsito Mangunkusumo. Perkembangan radio dan bahkan pertelevisian berkembang sangat pesat sejak Indonesia merdeka hingga kini.

0 komentar:
Posting Komentar